The Lost and Love [FILE 8]

By : Vi 

Cast : Oh Sehun (EXO), Im Nayoung (OC)

Genre : Marriage Life, Romance, Angst

Length : Chaptered

Rating : PG-17

Disclaimer : I own the plot and the stories. This story is purely mine, I created it myself from my own wild imagination. Cast besides OC(s) belongs to God and their relatives. I might have posted this story on another blog. Last but not least, please don’t be plagiators and siders! Thank you for your concern.

WARNING FOR TYPOS!

Previous

FILE 1 // FILE 2// FILE 3 // FILE 4 // FILE 5 // FILE 6 // FILE 7

also posted on here

.

.

.

.

.

Hidup satu atap dengan Sehun selama beberapa bulan ini benar-benar mengubah hidup Nayoung. Gadi itu perlahan-lahan mulai berubah supaya dapat menyesuaikan diri dengan status yang disandangnya sekarang sebagai Nyonya Oh. Awalnya memang tidak mudah, tapi sekarang dirinya sudah mulai terbiasa.

Nayoung juga perlahan-lahan belajar mengingat apa saja yang pria itu suka dan tidak suka. Semuanya terasa terlalu seperti skenario yang memang dirancang pas untuk mereka pada awalnya. Namun seiring dnean berjalannya waktu, sekanrio-skenario kaku itu berubah menjadi kebiasaan baru yang sudah menjadi aktivitas rutin baginya setiap hari.

Pria itu tidak berubah.

Masih sama kaku dan dingin dengan sebelumnya. Mereka juga masih saja sering perang dingin atau melempar bantal ke wajah satu sama lain. Hanya saja Sehun mulai mengurangi porsi sindiran yang ia lontarkan pada gadis itu. Melihat wajah bangun tidur satu sama lain pun sudah bukan hal yang perlu mereka tutupi. Toh, mereka akan terjebak dalam situasi seperti ini dalam waktu yang lama.

Tangan kanannya mengetuk-ngetuk ujung bolpen yang sedang ia pegang. Netranya terpaku pada berlembar-lembar kertas di hadapannya dan agaknya enggan untuk megalihkan fokusnya ke arah lain. Sementara Nayoung sedang sibuk mengatur ulang jadwal Sehun. Terima kasih berkat klien Sehun yang tiba-tiba membatalkan rapat.

Ia baru mengangkat tangannya untuk menorehkan goresan tinta di atas salah satu kertas ketika pintu ruang kerjanya terdengar dibuka dari luar. Membuatnya secara refleks menoleh ke atas dan menemukan seorang gadis sedang berjalan menuju ke arahnya dengan senyum mengembang. Rambut hitam bergelombangnya sedikit bergoyang ketika ia mendudukan diri di salah satu sofa di hadapan Sehun.

Hi, Hun,” sapanya dengan nada ceria. Sehun memasang senyum simpul di wajahnya. Belum pernah Nayoung melihat Sehun tersenyum setulus itu kepada siapa pun. Nayoung mengamati dari balik meja kerjanya dengan saksama. Bagiamana wanita itu tersenyum pada Sehun dan bagaimana Sehun membalas senyuman wanita itu. Sungguh, pemandangan di depannya sekarang ini, bukanlah pemandangan paling enak untuk dipandang saat bekerja.

Harus Nayoung akui, wanita itu terlihat jauh lebih anggun dan berwibawa jika dibandingkan dengan dirinya. Mereka, Sehun dan wanita itu, juga terlihat sangat serasi jika berdiri berjajar seperti sekarang. Hal itu entah mengapa membuat perasaan Nayoung sedikit terusik.

“Apa-apaan kau ini? Saat aku kembali ke sini, aku mendapat berita kalau kau sudah menikah,” seloroh wanita itu. Sehun hanya mendengus geli, kemudian membalas, “Maafkan aku, Ji-ah. Ini semua juga sangat mendadak.”

Si wanita bersedekap sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. “Jadi, siapa gadis tidak beruntung itu?” Sehun memutar bola matanya. Ia beranjak dari posisinya dan bergerak menghampiri Nayoung di mejanya. Buru-buru Nayoung mengubah posisinya yang seperti penguntit ke mode normal kembali. Kedua tangannya ia letakkan kembali di atas keyboardnya. Dia berusaha untuk setidaknya terlihat tidak sedang mengintai Sehun dari tempatnya sekarang.

“Aku ingin memperkenalkanmu pada seseorang.” Pura-pura terkejut adalah reaksi pertama yang Nayoung tampilkan. Sebelah tangannya mengelus dadanya sebagai faktor pemanis dalam aktingnya.

Nice acting, huh?

“Siapa?”

“Nanti kau juga tahu.”

Nayoung mengekor di belakang Sehun ketika pria itu meninggalkan ruangannya. Dasar menyebalkan. Meninggalkan istri sendiri untuk bertemu wanita lain.

HAH!

Wanita itu berdiri mengahadap pintu dan membelakangi mereka. Sesekali memerhatikan kuku tangannya yang terpoles apik oleh cat kuku. Dehaman Sehun membuat wanita itu berbalik. Ia mengamati Nayoung dari ujung kepala hingga ujung kaki. Namun senyum sumringah menyusul kemudian di wajahnya dan yang berikutnya Nayoung sadari, dirinya sudah berada dalam pelukan wanita itu. Nayoung hanya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya pelukan mereka dilepaskan sepihak oleh wanita di depannya.

“Kurasa kita bisa menjadi teman baik pada masa depan,” ucap wanita itu tiba-tiba.

“Eh….” Jujur saja, Nayoung benar-benar bingung harus membalas apa pada wnaita di hadapannya ini. Untungnya, ia kembali melanjutkan perkataannya karena Nayoung sempat berpikir untuk lari keluar ruang kerja Sehun karena tidak tahu harus berucap apa “Perkenalkan,” ia menyodorkan tangannya dan disambut dengan ragu-rgau oleh Nayoung, “namaku Han Jieun. Sepupu dari Oh-meyebalkan-Sehun, alias suamimu.”

Ah, ternyata sepupu Sehun.

Untuk beberapa saat, Nayoung sudah berpikir macam-macam mengenai Jieun.

“Oh Nayoung.”

Oh sweetheart, aku sungguh menyesal wanita secantik dirimu harus terjebak bersama pria menyebalkan ini.”

Akhirnya ada yang mengerti bagaimana rasanya!

Hey!” Sehun memprotes.

“Apa? Apa aku salah?” Terselip nada menantang di dalam balasan Jieun. Nayoung sudah hampir duduk manis sambil memakan popcorn untuk menyaksikan duel antarsepupu yang sepertinya bisa terjadi sebentar lagi di hadapannya. Sayangnya, harapannya tidak menjadi kenyataan.

“Jangan meracuni otak Nayoung dengan omonganmu. Lagipula dia tidak akan percaya.”

Try me,” timpal Nayoung tiba-tiba. Membuat kedua saudara itu sontak menoleh. Yang satu dengan ekspresi tidak percaya dan satunnya lagi dengan senyum jahat terukir di wajahnya. Mengkhianati Sehun sekali-sekali tidak ada salahnya, bukan?

“Hah! Bahkan istrimu setuju denganku,” seru Jieun dengan jari telunjuk diacungkan ke depan wajah Sehun. Pria itu menepis halus jari Jieun sambil lalu mendengus kesal.

“Terserah kau saja.” Sehun kembali duduk di balik meja kerjanya. Sementara Jieun terlihat senang karena dirinya memenangkan argumen dengan Sehun.

Kali ini Jieun mengalihkan pandangannya pada Nayoung dan mengerutkan keningnya. “Nayoung sayang, omong-omong apa yang kau lakukan di sini? Jangan bilang Sehun menyuruhmu bekerja.” Nayoung tidak menjawab dan membuat mata Jieun membelalak seketika. “Oh Sehun! Kau ini benar-benar! Bagaimana bisa kau menyuruh istrimu sendiri untuk bekerja?” Seru Jieun dengan langkah lebar-lebar menghampiri Sehun. Harus Nayoung akui kalau Jieun memiliki suara yang lantang. Namun ia tidak keberatan selama Jieun berpihak padanya dalam hal menindas Sehun.

“Ya Tuhan, bisakah kau diam? Aku sedang mencoba bekerja di sini, Ji-ah.

“Kalau begitu, aku pinjam istrimu untuk hari ini, ya?” Belum sempat Sehun menjawab, Jieun sudah melesat keluar sambil menarik Nayoung bersamanya. Otak Nayoung juga tidak cukup cepat untuk memberi tanggapan terhadap tarikan Jieun. Tapi dirinya tidak keberatan selama hal ini membebaskannya dari pekerjaan-pekerjaan itu.

****

Jieun membawa Nayoung kabur berbelanja tadi. Awalnya Nayoung tidak tertarik sama sekali untuk membeli apa pun. Namun Jieun memaksanya untuk mencoba beberapa gaun dan dress musim panas. Akhirnya, dengan paksaan juga Nayoung menerima semua pakaian pemberian Jieun. Nayoung bahkan tidak yakin dengan apa saja isi beberapa kantung belanjaan yang tadi disodorkan Jieun untuknya.

Kini mereka sedang duduk di sebuah kafe. Masing-masing dengan segelas minuman yang Jieun pesankan untuk mereka tadi. Jieun pada dasarnya adalah seseorang yang baik, hanya saja suka memaksa. Tidak beda jauh dengan saudara sepupunya.

“Jadi, sudah berapa lama kalian menikah?” tanya Jieun pada Nayoung. Pandangannya terarah pada jalanan di depan kaca di hadapannya. Tangannya membuat gerakan memutar pada sedotan minumannya. Membuat es batu di dalam gelas ikut berputar seirama degan tangannya.

“Tiga bulan kurasa.” Jieun tidak bereaksi pada jawaban Nayoung, ia justru menyeruput minumannya lalu tiba-tiba bertanya, “Apa kau mencintai Sehun?” fokus Nayoung seketika teralih dari minuman di genggamannya pada Jieun di sampingnya. Memandangnya dengan tatapan “apa maksudmu?”.

“Aku tahu kalau kalian menikah karena terpaksa. Karena Sehun yang kukenal bukan tipe orang seperti ini.”

“Tipe seperti apa maksudmu?”

“Menikah semudah membalik telapak tangan. Ia tidak akan melakukan hal itu. Walaupun ia telrihat seperti orang yang tak acuh, namun sebenarnya, ia adalah orang yang baik.” Jieun terlihat ragu untuk sesaat. Kembali meminum minumannya lalu menjilat bibir bawahnya dan melanjutkan perkataannya. “Aku mohon, berjanjilah padaku. Apa pun yang kau lakukan, jangan sakiti Sehun. Mungkin ia terlihat biak-baik saja di matamu, tapi dia adalah pribadi yang sangat rapuh, kau tahu?”

“Aku berjanji.”

Saat itu pula minuman milik Jieun sudah tandas. Ia melirik jam tangan yng melingkari pergelangan tangan kirinya. “Oh lihat, aku yakin Sehun sudah menunggumu. Sebaiknya kita kembali.” Jieun mengatakan hal itu seolah pembicaraan sebelumnya tidak terjadi sama sekali.

Jieun turun dari kursinya dan diikuti oleh Nayoung. Mereka berjalan beriringan lalu masuk bersama ke dalam mobil milik Jieun. Kursi belakang penuh dengan kantung-kantung belanjaan milik Jieun dan Nayoung. Sebagian besar, sih, milik Jieun.

Jieun menyalakan mesin mobil dan tidak lama kemudian mulai melajukan mobilnya untuk berpacu di jalan raya. Mereka kembali beribincang-bincang di dalam mobil. Sepertinya, hubungan Nayoung dan Jieun akan berjalan mulus.

Tanpa Nayoung sadari, mereka sudah berada di depan gedung kantor Sanders Group.

And guess what?

Sehun sudah menunggunya di depan mobil porsche milik pria itu sambil memerhatikan jam rolex di pergelangan tangan kirinya dengan gelisah. Terima kasih berkat Jieun yang membunyikan klason mobilnya, Sehun memalingkan arah pandangnya pada mobil Jieun—yang sekarang Nayoung tumpangi—dan ia tidak terlihat senang sama sekali.

Dengan langkah lebar-lebar, Sehun menghampiri kaca mobil tempat bangku pengemudi di mana Jieun duduk. Tangannya mengetuk permukaan kaca dengan tidak sabaran. Mau tidak mau Jieun menurunkan kaca mobil di sampingnya itu, namun tidak menunjukkan raut bersalah sama sekali. Ia justru memasang cengiran lebar yang sangat disebali Sehun.

Well, Hun, maaf membuatmu menunggu. Kau tahu, ‘kan? Aku mengajak Nayoung untuk berkeliling karena sepertinya menjadi istrimu bukanlah tugas yang menyenangkan sama sekali.”

“Ya, ya, baiklah. Terserah apa katamu, tapi aku harus pulang sekarang,” timpal Sehun lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah dalam jendela mobil dan mengacungkan dagunya ke arah Nayoung di bangku penumpang, “kau mau ikut atau bermalam di kantor?”

Ya! suami macam apa kau ini? Dasar,” cibir Nayoung. Jieun hanya bisa terkekeh geli melihat interaksi sepasang suami istri di hadapannya ini. Detik selanjutnya, Nayoung melepas sabuk pengamannya lalu membuka pintu mobil dan segera turun dari mobil milik Jieun. Ia berjalan mengitari bagian depan mobil hingga berdiri berdampingan sengan Sehun.

“Jieun-ssi, terima kasih untuk hari ini. Aku harap kita bisa bertemu lagi,” ucap Nayoung seraya membungkuk di depan jendela mobil yang masih terbuka.

Jieun mengibaskan tangannya di udara. “Don’t mention it. Kalau Sehun berbuat macam-macam, kau bisa mengadukannya padaku, ok?”

Ya! Sebenarnya kau ini ada di pihak siapa, huh, Han Jieun?”

“Kau tahu aku tidak pernah memihakmu, Hun. Kalau begitu aku duluan. Annyeong.” Jieun kembali menginjak pedal gas dan menghilang di perempatan depan sana. Meninggalkan Sehun dan Nayoung dalam bisu.

Nayoung sedang sibuk melambaikan tangannya pada Jieun yang bahkan sudah tidak terlihat lagi dan saat itulah Nayoung mneyadari sesuatu. Sehun sedang menatap ke arahnya. Bukan jenis tatapan yang membuat perut Nayoung bagai dipenuhi ribuan kupu-kupu. Lebih kepada tatapan Sehun yang membuat Nayoung bisa berteriak, “Tolong aku!” kapan saja detik ini.

Wanita itu membalas tatapn Sehun sambil mengacingkan dagunya. “Apa yang kau lihat?” Sehun tetap tidak mengalihkan tatapannya dan justru memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Tanpa mengatakan sepatah kata pun pria itu justru pergi dan masuk ke dalam mobil.

Aish, pria itu benar-benar.” Buru-buru Nayoung menyusul Sehun dan masuk ke dalam mobil pria itu. Sehun nampak tidak berminat denan presensi Nayoung yang sudah duduk di sampingnya. Pria itu dengan santai mulai menghidupkan mesin mobil dan muali melajukan kendaraannya.

****

Entah apa yang merasuki Sehun, pria itu dengan mudahnya menurut pada Nayoung sewaktu gadis itu meminta Sehun untuk melihat Nayoung mencoba beberapa helai pakaian yang tadi dibelikan Jieun untuknya. Sehun terduduk di sofa yang terletak di sisi ranjang bagian depan. Persis menghadap ke pintu walk in closet miliknya. Tidak lama, pintu terbuka dan memampangkan siluet Nayoung yang terbalut apik dengan dress hitam berpotongan sedikit ketat yang menonjolkan lekuk tubuh Nayoung tanpa kesan berlebihan. Dress tanpa lengan dengan potongan dada yang cukup rendah tentu cukup mengusik konsentrasi Sehun. Sebelum tatapannya mulai menjelajah ke mana-mana, pria itu memutuskan untuk memberi komentar.

“Warnanya hitam. Aku suka.” Akhirnya hanya dua kalimat itu yang meluncur dari mulut Sehun. Nayoung merutuk dalam hati sambil lalu berbalik untuk mencoba gaun keduanya.

Apa Sehun tidak punya komentar yang sedikit lebih bermutu daripada tadi? Menyebalkan.

Semenit kemudian, Nayoung keluar dengan balutan gaun berwarna merah. Gaun ini justru lebih terbuka dari gaun pertama. Punggung mulus Nayoung terekspos bebas tanpa sehelai kain pun yang menutupinya. Potongan gaun merah ini juga berpotongan rendah pada bagian dada Nayoung. Membuat Sehun menggeram dalam diam. Sebagai pria normal, Sehun tidak bisa bohong kalau dirinya tidak tergoda dengan tubuh gadis di hadapannya, tapi Sehun tidak mau gegabah dengan perbuatannya dan seperti biasa, ia memilih untuk tetap memasang wajah setenang air di hadapan Nayoung.

“Gaunnya bagus. Aku suka warnanya dan desainnya juga terlihat elegan.”

“Apa cocok denganku?”

“Dengar, gaun itu membuatmu terlihat bagus dan bukannya kau yang membuat gaun itu terlihat bagus kalau kau mau tahu,” jawab Sehun.

Ya! terserah kau saja,” balas Nayoung yang langsung berbalik sambil menghentakkan kedua kakinya dan masuk ke dalam walk in closet untuk berganti pakaian. Sehun memang orang yang tahu betul bagaimana caranya merusak suasana.

Nayoung berjalan ke arah kantung belanjaannya ketika menyadari ada sesuatu yang menjuntai keluar dari dalam kantung belanjannya. Nayoung berjalan mendekat dan menarik benda itu ke udara. Detik berikutnya, mata gadis itu membulat lalu ia mengacak-acak isi kantung belanjaannya dan menemukan tiga pasang bikini yang bahkan ia tidak tahu bagaimana caranya bisa masuk ke dalam kantung belanjaan miiliknya.

Untuk sesaat, gadis itu berpikir mungkin mereka dibeli oleh Jieun dan tidak sengaja masuk ke dalam kantung belanjannya. Lagipula Nayoung juga tidak mengingat kalau ia membeli bikini tadi.

Sementara di sisi lain, Sehun sedang menunggu Nayoung yang tak kunjung keluar. Tiba-tiba saku celana Sehun bergetar. Ia merogoh sakunya dan menemukan layar ponselnya sedang menampakkan adanya panggilan dari Jieun. Sehun menggeser tombol hiijau pada layar lalu menempelkan ponselnya di telinga kanannya.

Hey, Ji. Ada apa?”

“Sehun, kemasi barang-barangmu sekarang. Aku sudah memesan penerbangan paling pagi untukmu besok.”

Ya, apa ini? Jangan bercanda, Ji.”

“Aku tidak bercanda, Hun. Setidaknya aku sedang mencoba membantu hubunganmu dengan Nayoung.”

“Kau tidak perlu ikut campur dengan urusan pernikahanku.”

“Sayangnya, aku baru saja melakukannya. Jadi, aku tidak mau uangku terbuang sia-sia. Jangan coba-coba untuk tidak datang besok dan malah mengganti rugi uangku.”

Sehun mendesah ringan lalu menopang kedua tangannya di atas lututnya. “Tapi, Ji—”

“Tidak ada tapi. Kau butuh berlibur, Hun. Kau tidak bisa terus-menerus menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Kau bukan robot.”

“Mungkin kau benar. Aku butuh waktu berlibur sebentar, tapi ke mana kau akan mengirim kami?”

“Santorini dan oh, tolong bilang pada istrimu, jika dia menemukan ada yang aneh di dalam kantung belanjaannya, bilang saja itu hadiah dariku, oke?”

Sehun mengerutkan dahinya. Alisnya saling bertautan. “Apa?”

“Sudah dulu, Hun. Aku akan mengirim pesan mengenai detail perjalanan kalian nanti.” Setelah itu sambungan telepon terputus secara sepihak. Sehun memandangi layar ponselnya dengan heran. Seharusnya, dirinya sudah bisa mengendus rencana sepupunya itu dari awal, tapi agaknya ia tidak bisa dan justru berujung pada liburan yang bahkan dirinya tidak ketahui.

Tidak lama, Nayoung keluar dengan balutan piyamanya. Ia berjalan menuju ranjang tanpa menatap ataupun mengacuhkan Sehun. Benak Sehun berputar selama beberapa saat sebelum akhirnya ia mengingat sesuatu lalu berbalik menatap Nayoung lantas berkata, “Tadi Jieun menelepon. Ia bilang ia menaruh hadiah aneh di dalam kantung belanjaanmu.”

Kini giliran dahi Nayoung mengerutkan dahinya. Ia mencoba mengingat apa yang aneh dari isi kantung belanjannya. Seketika wajahnya terasa memanas saat mengerti hadiah mana yang dimaksud Sehun.

Ya, kenapa wajahmu merah begitu? Kau memikirkan hal mesum, ya?”

“Enak saja! Sudah aku mau tidur!”

“Kemasi barang-barangmu. Besok kita akan pergi berlibur ke Santorini, dan tolong jangan tanya padaku kenapa hal ini sangat mendadak karena aku juga baru tahu lima menit yang lalu. Jieun mengirim kita untuk berlibur ke Santorini, jadi sebaiknya siapkan pakaianmu.”

Lalu Sehun berdiri dan berjalan masuk kamar mandi. Meninggalkan Nayoung yang masih berusaha mencerna kata-kata Sehun, dan sekarang Nayoung paham betul dengan maksud hadiah Jieun.

TBC

A/N:

Geez…It feels like ages since I’d written something on this blog. Aku bahkan gak yakin masih ada yang inget sama cerita ini. DAMN…I REALLY MISS THIS BLOG! (ga woles).

Best regards,

Vi

Advertisements

14 thoughts on “The Lost and Love [FILE 8]

  1. Yaampuun,seneng pas ff ini update. Nungguinnya lama bangettt yaampun,hehehe. Agak lupa sama ceritanya sedikit. Tapi seiring baca jadi inget deh(ngomong apa sih)hehehe.
    Berharap hubungan mereka lebih baik(?)hehehehehehe. Ada adegan romance dikit gitu,hehehe.
    ditunggu kelanjutannya kak,keep writing and fighting!

    Liked by 1 person

    • Aduhh msh ada yg nunggu & baca ternyata T.T terhura aku. Ff ini stlh aku cek ternyata update terakhir udh thn lalu….makasih review & semangatny yaa ^^

      Like

  2. Hahaha mereka lucu banget sih kek anak kecil. Masa suami istri saling melempar bantal ke wajah masing masing 😀
    Aku kita cewek yang datang bakal jadi orang ketiga diantara mereka eh ternyata sepupunya Sehun. 🙂 Yee mereka bakal bulan madu. Ditunggu kabar baiknya 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s