The Lost and Love [FILE 7]

By : Vi 

Cast : Oh Sehun (EXO), Im Nayoung (OC)

Genre : Marriage Life, Romance, Angst

Length : Chaptered

Rating : PG-17

Disclaimer : I own the plot and the stories. This story is purely mine, I created it myself from my own wild imagination. Cast besides OC(s) belongs to God and their relatives. I might have posted this story on another blog. Last but not least, please don’t be plagiators and siders! Thank you for your concern.

WARNING FOR TYPOS!

Previous

FILE 1 // FILE 2// FILE 3 // FILE 4 // FILE 5 // FILE 6

also posted on here

.

.

.

.

.

Pagi itu matahari kembali bersinar dengan terang seperti biasanya. Bias cahayanya membuat gadis bersurai hitam itu mulai mengerjap-ngerjap pelan dan perlahan membuka kedua kelopaknya. Matanya sedikit menyipit berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk.

Setelah duduk di atas ranjangnya, ia merentangkan kedua tangannya di udara dan menguap lebar-lebar. Rambutnya terlihat tidak lebih bagus dari sarang burung yang sudah ditinggal penghuninya. Lagipula rambut jelek pada pagi hari bukanlah dosa.

“Bahkan matahari lebih cerah dari hidupku,” gumam Nayoung disela-sela kegiatannya menguap.

Kalau saja pria sialan yang bernama Oh Sehun itu tidak menyuruhnya untuk bekerja, Nayoung tidak akan sudi—catat itu—untuk bangun pagi seperti ini dan sayangnya pria sialan itu sudah resmi berstatuskan sebagai suaminya semalam.

Mengingat pernikahan semalam membuat Nayoung tanpa sadar mengelus permukaan cincin bertahta berlian yang sedang meliingkar manis di jari tengahnya. Mungkin cincin itu akan terlihat sangat indah bila mereka saling mencintai. Namun, keindahan berlian-berlian itu tidak mampu menutupi kenyataan kalau mereka tidak saling menyukai, apalagi mencintai.

Dengan langkah sedikit diseret dan mata setengah terpejam, ia memaksakan diri untuk masuk ke kamar mandi. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menuntaskan ritual mandi pagi. Ia keluar dengan mengenakan kemeja putih dan rok pensil yang panjangnya mencapai sedikit di atas lutut.

Lalu ia memutuskan untuk menata sedikit penampilan supaya paling tidak bisa dikatakan layak. Belum lagi dengan gelarnya yang sekarang sebagai istri Sehun, calon penerus Sanders Group. Dan mau tidak mau, suka atau tidak suka, ia harus setidaknya tampil selayaknya peran yang sedang dilakoninya sekarang sebagai pasangan sah Sehun.

Rambutnya dibiarkan terurai. Wajahnya ia poles sedikit dengan alas bedak untuk menutupi kantung mata akibat kurang tidur setelah resepsi semalam dan sedikit lipstik pada bibirnya. Namun, tidak mencolok. Hanya untuk memberi kesan bibir yang sehat dan alami.

Ia keluar dari kamarnya dan ternyata Sehun juga keluar pada waktu yang bersamaan. “Selamat pagi,” sapa Nayoung yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Sehun yang beberapa detik sebelumnya sedang memandangi Nayoung. Gadis itu mendengus kesal dan mengikuti Sehun dari belakang untuk menuruni tangga. Apa sulitnya, sih? Untuk membalas ucapan selamat pagi.

Selama Nayoung menyiapkan sarapan, Sehun hanya duduk dengan secangkir kopi yang sebelumnya sudah disiapkan Nayoung. Pria itu sibuk dengan tablet PC di hadapannya. Ia lebih memilih untuk berkutat dengan berbagai macam angka dan statistik perusahaan daripada memprotes Nayoung karena menaruh gula dalam kopinya.

“Jangan makan sambil melihat tabletmu, Sehun.” Pria itu sontak mendongak dan menatap Nayoung di hadapannya yang sedang sibuk mengunyah sarapan miliknya dengan tampang tidak berdosa. Anehnya, Sehun justru menurut alih-alih protes seperti yang biasa ia lakukan.

Sehun menandaskan sarapannya lalu kembali menyesap kopinya sebelum berkata, “Mulai hari ini kau bekerja sebagai sekretarisku. Tidak ada penolakan.”

“Apa-apaan, Sehun?! Memangnya apa yang salah dengan sekretaris lamamu?”

Demi semua yang suci di muka bumi ini, Nayoung jauh lebih memilih bekerja di departemen desain daripada harus terjebak dengan pria itu selama seharian. Membayangkannya saja sudah bisa membuat Nayoung bergidik ngeri. Bisa-bisa pulang kerja nanti, Nayoung hanya tinggal nama.

Sehun mencebik kesal. “Dia berhenti.”

“Lalu kau seenaknya menjadikanku sekretarismu?”

“Memangnya kau tidak mau?”

“Memangnya kau mau?”

Saat itu pula, Sehun langsung menatap tajam ke arah Nayoung. Membuat nyali gadis itu langsung menguap tak bersisa. “B-baiklah. Aku akan menjadi sekretarismu. Tapi biar kuingatkan, aku tidak punya pengalaman apa pun dalam bidang itu.”

“Itu tidak akan menjadi masalah.”

Gadis itu hanya bisa memaki Sehun dalam hati dari tempatnya berada. Nada bicara Sehun selalu berpengaruh begini terhadap Nayoung. Ada sesuatu dalam nada otoriter Sehun yang membuat Nayoung sama sekali tidak berani mempertanyakan apalagi membantah permintaan Sehun. Kalau begini terus, Nayoung rasa dirinya bisa gila lama-lama.

Acara sarapan pagi berjalan lebih mulus dari perkiraan Nayoung. Tidak ada aksi saling melempar piring ataupun membakar dapur. Dan Nayoung bisa bernapas sedikit lega karena itu.

****

Hipotesis-hipotesis mengenai apa yang mungkin akan terjadi pada dirinya sebagai sekretaris Sehun terus saja menghantui benaknya. Ia hanya bisa gigit jari sambil berharap cemas kalau-kalau Sehun tidak puas dengan hasil kerjanya nanti dan justru melemparnya ke luar jendela. Semoga saja tidak terjadi.

Ia diberi meja kerja sendiri di dalam ruang kerja Sehun. Namun keduanya dipisahkan oleh sekat pembatas supaya privasi Sehun tidak terganggu. Bunyi telepon di atas meja kerja Nayoung tiba-tiba berbunyi saat pikirannya sedang berkecamuk. Diraihnya gagang telepon itu dengan refleks dan segera dijawab.

“Tolong buatkan aku kopi. Kali ini jangan pakai gula.” Suara Sehun menggema dari seberang sana. Demi Tuhan, jaraknya dengan ruangan Nayoung bahkan tidak sampai sepuluh meter. Sambungan telepon diputus sepihak. Bahkan saat Nayoung belum sempat menghembuskan nafasnya, Sehun sudah memutuskan kontak mereka.

Nayoung berjalan ke ujung ruangannya. Di sana sudah ditata dan disiapkan teh juga kopi yang dikhususkan untuk Sehun kalau-kalau pria itu minta dibuatkan teh atau kopi, seperti sekarang. Setelah menuangkan air ke dalam pemanas air, ia lantas kembali duduk di kursinya untuk menyelesaikan beberapa berkas dan menyusun ulang jadwal Sehun karena ada rapat yang dimajukan tadi.

Ia kembali mengecek air panas tadi lantas mematikan pemanas airnya lantaran airnya sudah mendidih. Tiba-tiba saja ia teringat dengan ibunya. Bagaimana keadaan ibunya di sana? Apa ibunya hidup dengaan baik sekarang? Ibunya pasti dalam keadaan jauh lebih baik sekarang tanpa dirinya karena ia hanyalah pembawa kesialan bagi ibunya.

Yang ia sadari detik selanjutnya adalah panasnya air dalam teko air yang menyiram permukaan kulit tangannya.

“AAAKH!” Nayoung memegangi tangannya sambil meringis kesakitan.

“Apa yang—astaga! Kau kenapa?!” Sehun sontak menghampiri Nayoung dengan raut khawatir. Setelah mendengar jeritan Nayoung, Sehun buru-buru melesak asuk ke dalam ruangan Nayoung, mengira sesuatu sedang terjadi. Dan ternyata tangan Nayoung sudah tersiram air panas.

“Tidak, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit ceroboh,” komentarnya. Wajahnya berusaha menyembunyikan rasa sakit namun sepertinya memang tidak berpengaruh apa pun karena ringisan Nayoung terlihat terlalu jelas. Panasnya mulai mereda namun kulitnya mulai memerah sekarang.

Sehun mendecak sebal lalu menarik Nayoung ke dalam ruangannya. Dirinya beranjak mencari sesuatu di dalam laci kerjanya. Ia kembali dengan kotak P3K dalam genggamannya.

“Duduklah,” kata Sehun dan Nayoung tidak membantah karena rasa sakit di tangan kirinya. Sehun lalu mengambil posisi berjongkok di depan Nayoung. Ia meraih salep luka bakar dari dalam kotak P3K.

Tangan Nayoung terulur hendak mengambil alih obat dari tangan Sehun. “Aku bisa sendiri.”

“Diamlah, biar aku saja.” Sehun mengeluarkan sedikit obat oles itu di atas permukaan kulit tangan kiri Nayoung yang membuat gadis itu kembali meringis.

Jari Sehun perlahan beregerak mengoleskan obat secara merata sampai tiba-tiba tangan Nayoung refleks mencengkram tangannya. Gadis itu sedang memejamkan matanya dengan nafas tertahan ketika Sehun mengangkat kepalanya.

“Maaf. Apa sakit?” Nayoung mengangguk. “Tahan sebentar,” ucap Sehun lalu kembali mengoleskan obat itu pada luka bakar Nayoung. Tidak lama setelh itu, Sehun memasukkan kembali obat oles itu ke dalam kotak.

“Terima kasih.”

“Sudahlah, bukan apa-apa.”

Ternyata Sehun tidaka sekejam perkiraan Nayoung. Pria itu jauh lebih peduli jika dibandingkan dengan penampilannya. Dari luar mungkin Sehun telrihat seperti pribadi dingin yang sulit dijangkau. Namun sebenarnya pria itu baik hati, hanya mungkin terkadang bingung bagaimana cara menyampaikan emosinya.

****

Nayoung diberikan kesempatan Sehun untuk mempresentasikan bahan untuk yang pertama kalinya pada saat rapat. Untungnya, rapat dan presentasinya berjalan dengan mulus. Walau gadis itu yakin kalau keringat dingin sebesar butir jagung sudah membasahi pelipisnya. Ia bisa bernapas lega sekarang karena saat-saat menegangkannya sudah lewat.

Ia keluar ruangan rapat terlebih dahulu karena tadi Sehun sepertinya ingin bicara empat mata dnegan kliennya. Kakinya ia bawa menuju ruang kerja Sehun yang dirangkap menjadi ruang kerja miliknya juga sekarang.

Mood Nayoung sedang bagus hari ini karena selain tangannya tersiram air panas, harinya berjlana dengan sangat baik. Tapi keberuntungan sepertinya tidak bertahan lama baginya karena yang terjadi selanjutnya adalah semua dokumen yang dibawanya jatuh berserakan di lantai. Seseorang baru saja menabraknya, dan ia ingin memaki karena itu.

“Ya ampun, maafkan aku,” ujar orang itu. suara itu membuat Nayoung refleks mengangkat kepalanya menghadap ke depan untuk melihat pria yang sedang berjongkok di depannya untuk membantunya membereskan kertas-kertas yang berserakan. Walau baru beberapa kali mendengar suara pria itu, Nayoung sudah bisa menebak dengan jelas siapa pemilik vokal yang baru saja meminta maaf terhadap dirinya.

“T-tuan Kim, biar saya saja yang bereskan. Maafkan kelalain saya karena sudah menabrak anda,” balas Nayoung sambil membungkuk kecil seraya memunguti kertas-kertas di bawahnya.

“Tanganmu kenapa?” tanya Junmyeon ketika melihat tangan kiri Nayoung yang diperban tanpa mengindahkan ucapan Nayoung.

“Ah ini,” Nayoung menoleh ke tangan yang dimaksud Junmyeon, “tidak apa-apa, hanya sedikit ceroboh.”

“Ck, kau harus lebih berhati-hati.” Pria itu tidak berhenti mengambil kertas-kerrtas yang berserakan di lantai. Dari jarak seperti ini, Nayoung bisa mencium aroma sitrus menyeruak dari balik jas yang dikenakan atasannya itu.

Keduanya kembali berdiri setelah smeua kertas sudah kembali terkumpul. Nayoung menunduk berkali-kali untuk meminta maaf pada Junmyeon sebelum Junmyeon memegang lengan bagian atasnya dan memintanya berhenti.

Eyy, sudahlah. Nanti orang salah sangka kalau aku sedang menyiksa adik iparku sendiri. Dan di mana Sehun? Kenapa ia membiarkanmu membawa semua berkas ini sendiri? Sini biar aku bantu.”

“Tidak perlu, tuan. Saya bisa sendiri.”

“Bukankah sudah kubilang untuk tidak usah memakai ‘tuan’ kalau memanggilku? Panggil Junmyeon saja kalau di kantor, tapi di luar kantor, kau harus memanggilku oppa, oke?”

“A-ah iya, Tu—maaf, maksud saya Junmyeon-ssi.”

“Begitu lebih baik, tapi masih terlalu kaku. Munngkin kita harus banyak berlatih hahahaha,” komentar Junmyeon. Tawanya terdengar tulus dan tidak dibuat-buat. Nayoung jadi semakin tidak mengerti kenapa Sehun begitu tidak menyukai kakak laki-lakinya. Ya, walaupun secara hukum mereka hanyalah saudara tiri, tapi gadis itu tidak bisa menemukan alasan untuk tidak menyukai Junmyeon.

Gadis itu tersenyum kikuk. Dan sebelum Naoung sempat menyadarinya, Junmyeon sudah mengambil sebagian berkas di tangan Nayoung dan langsung berjalan di depannya.

“Junmyeon-ssi! Biar aku saja yang bawa. Aku bisa sendiri,” ujar Nayuong buru-buru setelah mensejajarkan langkah mereka dengan susah payah.

“Kau kerja di departemen desain ‘kan?” tanya Junmyeon tanpa mengacuhkan perkataan Nayoung.

“Aku…aku bekerja sebagai sekretaris Sehun sekarang,” balas Nayoung yang membuat kepala Junmyeon menoleh seketika tanpa mneghentikan langkahnya.

“Anak itu benar-benar,” ucapnya, “dasar pengantin baru, memang tidak bisa saling berjauhan. Iya ‘kan?” Junmyeon terkekeh pelan. Mereka berjalan hingga tanpa sadar telah sampai di depan pintu ruangan Sehun. Lelaki itu membuka pintu ruang kerja Sehun dan membantu menaruh berkas-berkas itu di atas meja Nayoung.

Gadis itu baru saja hendak duduk di kursinya ketika Junmyeon yang sudah mulai beranjak pergi tiba-tiba berbalik lalu berkata, “Jika anak itu menyusahkanmu, laporkan saja padaku.” Junmyeon mengerling ke arah Nayoung lalu tersenyum jenaka. Lantas ia keluar tanpa berkata apa-apa lagi.

Tidak lama setelah terdengar debaman pintu ditutup, ia mendengar pintu kembali dibuka lalu ditutup. Ia harap itu bukan Sehun. Kalau benar itu Sehun, berarti pria itu pasti bertemu dengan Junmyeon di depan. Dan entah kenapa, bayangan Sehun bertemu dengan Junmyeon membuat dirinya bergidik ngeri. Mengingat kejadian tempo lalu ketika Sehun tidak menyukai Junmyeon yang menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.

Namun yang terjadi selanjutnya justru berkebalikan dengan keingninan Nayoung. Sehun dengan langkah besar-besar memasuki ruangannya.

“Apa yang dilakukannya di sini?” Nayoung mengerti betul siapa yang dimaksud dengan ‘nya’ dalam kalimat Sehun.

“Junmyeon-ssi  hanya membantuku untuk membawa beberapa berkas ke sini.”

“Bagian mana dari ucapanku untuk menjauhinya yang tidak kau pahami?” Nayoung tidak menjawab. Ia justru mulai sibuk berkutat dengan komputer di hadapannya ketimbang meladeni Sehun.

“Oh Nayoung, tatap aku saat aku bicara.” Nada mendesak dan memaksa terselip di dalamnya. Membaut kepala Nayoung secara ajaib menoleh ke atas dan mendapati wajah Sehun yang air mukanya terlihat mengeras. Dan mendengar Sehun memanggil nama lengkapnya dengan nama keluarga milik pria itu, memberi perasaan aneh tersendiri pada Nayoung.

“Aku sedang tidak ingin berdebat, Sehun-ssi. Jangan bicarakan masalah seperti ini di kantor. Kau terlihat sangat tidak profesional jika membawa urusan pribadi dalam urusan kerja.”

Perkataan Nayoung mebuat Sehun bak disambar petir pada siang bolong. Wajah pria tu merah padam. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Lalu dengan langkah berderap, ia melangkah keluar dari ruangan Nayoung.

Sementara gadis itu sendiri juga tidak terlihat seperti sedang dalam mood yang baik. Terima kasih banyak berkat pekerjaan menumpuk di hari tepat setelah pernikahannya yang melelahkan.

****

Nayoung baru saja mematikan komputernya. Ia bersandar pada sandaran kursi yang ia yakini lebih mahal daripada semua baju-baju yang dibawanya ke Seoul. Gadis itu menengadahkan kepalanya ke atas sambil meregangkan otot-ototnya. Ia memejamkan kedua matanya sebentar dan hampir saja terlelap kalau suara pria paling menyebalkan di dunia ini tidak menyapa rungunya.

“Kita bisa pulang sekarang,” ucap Sehun lalu pria itu kembali ke bagian ruangan miliknya dan mulai merapikan beberapa lembar kertas penting yang Nayoung perkirakan bisa bernilai jutaan won jika sudah ditandatangani.

Gadis itu juga sudah tidak sabar ingin pulang. Membayangkan kasur, bantal, dan selimutnya saja sudah membuat gadis itu makin semangat pulang.

Ah, those holy trinity…

Mereka keluar bersama dari ruang kerja Sehun. Di sepanjang lorong, banyak karyawan yang menyapa mereka. Beberapa karyawan wanita terlihat memberikan senyum palsu paling jelas mereka pada Nayoung. Kemungkinan sebal karena atasan mereka telah melepas status lajangnya. Tapi Nayoung tak menggubris satu pun dari mereka.

Setelah turun ke lobby, mereka kembali berjalan emnuju pintu utama gedung. Sehun meminta seorang petugas valet mengambil mobilnya.

Ketika mobilnya sampai, sang petugas turun dari kursi kemudi dan digantikan dengan Sehun sendiri. Lalu diikuti dengan Nayoung yang juga masuk ke dalam mobil dan setelahnya, Sehun menginjak pedal gas yang membawa sang kuda besi menghilang di balik tikungan jalan.

****

Sehun langsung memutuskan untuk membersihkan diri sesampainya di rumah sementara Nayoung langsung beranjak ke dapur dan memulai kegiatannya. Ia menguncir satu tinggi rambutnya lalu memekai celemek dan mengikatkan talinya.

Ia berjalan menuju kulkas lalu mengambil bahan-bahan yang ia rasa dibutuhkan. Beberapa kali Nayoung bolak-balik dari kulkas ke konter dapur.

Tangannya dengan terampil mulai mengiris, memotong, dan mencincang beberapa jenis sayuran. Lantas memulai proses pemasakan sayur-sayur tersebut beserta dengan bahan-bahan lainnya. Ia terlalu sibuk sendiri sampai tidak menyadari kalau waktu sudah berjalan hampir setengah jam semenjak ia menginjakkan kakinya di dapur. Juga tidak menyadari Sehun yang diam-diam sudah duduk di balik meja makan dan memerhatikan gerak-geriknya semenjak lima menit yang lalu.

Pria itu sudah mengenakan pakaian rumahnya yang santai. Berbeda dengan Nayoung yang masih memakai setelan kantornya dengan lengkap.

Sehun memerhatikan lamat-lamat punggung gadis itu. Dan sekon itu, Sehun menyadari kalau Nayoung memiliki tubuh yang melekuk di bagian yang seharusnya dengan indah. Rok pensil yang dikenakan Nayoung hanya mempertegas garis tubuh sang gadis.

Sehun tidak mengerti apa yang salah dengan dirinya saat ini, tapi mata dan pikirannya tidak mau sinkron. Matanya mulai nakal memerhatikan leher jenjang milik Nayoung yang terekspos jelas karena gadis itu menguncir seluruh rambutnya tinggi-tinggi. Sehun menggelengkan kepalanya dengan cepat sebelum imajinasi kotornya mulai bekerja.

Bagaimanapun Sehun juga pria normal. Ia adalah pria sejati. Lagipula, di hadapan hukum dan agama, Nayoung adalah istri sahnya. Jadi, yang dilakukan Sehun sebenarnya tidak masalah sama sekali.

“Oh? Kau sudah selesai mandi? Tepat pada waktunya. Makan malam sudah siap.”

Nayoung menghidangkan setidaknya tiga jenis hidangan di atas meja makan. Aroma masakan Nayoung masuk ke dalam rongga hidung Sehun yang langsung membuat perut pria tu bergemuruh. Ia baru sadar kalau dirinya belum makan siang.

Setelah gadis itu duduk di seberang Sehun, mereka akhirnya mulai memakan makanan masing-masing. Sehun akui masakan Nayoung sangat enak, tapi tentu tidak ia verbalkan. Dasar Sehun dan harga dirinya yang setinggi langit.

Makan malam berjalan dengan seharusnya. Basa-basi tak berbobot, gerakan nonverbal yang terlampau canggung, dan masih banyak lagi. Hal-hal yang sudah sewajarnya memnghiasi rumah tangga mereka yang bahkan tidak memiliki fondasi sejak awal.

Dengan mata terpejam, Sehun menengadah ke langit-langit kamar. Dengan kedua tangan yang menooang di bawah kepalanya. Dari sini rungunya bisa mednegar dengan jelas suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Suara jarum jam berdenting pun tak ubah melodi penghibur bagi indera pendengarannya.

Samar-samar pintu kamar mandi mulai terbuka dan gadis itu melangkah keluar. Rambutnya masih setengah basah ketika beberapa tetes air meluncur turun dari ujung-ujungnya. Langkahnya terlihat ragu namn tetap berderap ke ranjang mereka.

Sang pemuda menaikkan sebelah alisnya dan membuka kedua kelopak matanya ketika merasakan kasur sedikit bergoyang. Pandangannya membawa kedua iris elangnya menuju pada si gadis yang sedang duduk di atas ranjang dan memandanginya penuh waspada.

“Awas sampai kau berani macam-macam,” ujarnya. Air mukanya terlihat serius namun justru terlihat jenaka di mata Sehun. Keinginan pria itu untuk menggodanya pun tidak bisa diabaikan lagi. “Memangnya kenapa? Kau adalah istri sahku,” timpal Sehun lalu mulai mencondongkan diri ke arah Nayoung yang membuatnya tersudut pada sandaran ranjang. Nayoung menahan napasnya ketika dengusan hangat napas Sehun menerpa kulit lehernya. Yang selanjutnya dibisikkan Sehun, membuat Nayoung hilang akal selama sepersekian detik.

“Bukankah begitu, Nyonya Oh?” bisik Sehun tepat di samping telinga Nayoung. Bukannya mundur, Sehun justru sengaja berlama-lama pada posisinya. Ia terlampau penasaran dengan reaksi yang akan dilontarkan si gadis. Sampai akhirnya Sehun menyesali keputusannya karena Nayoung mendorong Sehun hingga dirinya terjungkal dan berakhir di lantai.

“Ya ampun, apa kau tidak apa-apa? Maafkan aku.” Nayoung buru-buru menghampiri Sehun yang berada di lantai. Pria itu terlihat tidak baik-baik saja. Justru melempar pandangan kesal apada Nayoung sekarang. “Apa aku terlihat baik-baik saja?” sarkas Sehun.

“Aku tidak percaya aku menikahi wanita bar-bar sepertimu,” gumam Sehun sengaja tidak dipelankan.

“Apa kau bilang?!”

“Kau wanita bar-bar.”

“Oh Sehun…aku membencimu.”

“Kita impas kalau begitu.”

Nayoung mencebik dan tidak jadi membantu Sehun. Pria itu lantas naik ke atas ranjang lalu menyentak selimut yang seharusnya cukup untuk dua orang dewasa. Gadis itu baru hendak memejamkan matanya ketika merasakan selimut bagiannya disentak dan bergeser terlalu jauh. Tidak terima, ia balas menarik selimut dengan satu sentakan dan bisa mendengar Sehun memaki-makinya dalam diam di belakangnya.

TBC

A/N:

Haluuu~ aku kembali setelah hibernasi sekian lama. Baru satu setengah bulan, sih, but it feels like decades wasn’t it? Sebenernya, udah bikin sampe chapter 9, tapi laptop dan wifi rumah lagi nggak mendukung belakangan ini, so yeah…

Ah, aku kangen wordpress dan dunia tulis-menulis. Udah lama banget rasanya nggak nulis di blog tercintaku ini T.T

Ini random, tapi yaudahlahyasekalian :v. Entah ini akunya baper atau gimana,  tapi aku merasa belakangan ini idolaku, EXO, itu kayaknya banyak banget cobaannya. Sebagai fans yang ngedukung kegiatan positif idolanya, pastinya aku lelah, baik lahir maupun batin ngeliatin idola diterjang badai sana-sini. Masalah ini belum selesai, eh, ada aja lagi yang dateng. Udah kayak cobaan beruntun gitu :v. Walau badai menerjang, aku tetap cinta EXO as who they are.

 

Best regards,

Vi

 

Advertisements

15 thoughts on “The Lost and Love [FILE 7]

  1. Aku cuma mau ucapin thanks Aja buat author karn selama aku bca ff ini blum diprotec.
    Ffmu bagus trus kok semangat terus nulisnya

    Like

  2. Yaampun sisi lembut dari Oh Sehum mulai kelihatan. Meski mereka masih kaku tapi pas Nayoung tersiram air panas dan Bagaimana dia mengkhawatirkan istrinya sangat manis ;*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s