The Lost and Love [FILE 5]

By : Vi 

Cast : Oh Sehun (EXO), Im Nayoung (OC)

Genre : Marriage Life, Romance, Angst

Length : Chaptered

Rating : PG-17

Disclaimer : I own the plot and the stories. This story is purely mine, I created it myself from my own wild imagination. Cast besides OC(s) belongs to God and their relatives. I might have posted this story on another blog. Last but not least, please don’t be plagiators and siders! Thank you for your concern.

WARNING FOR TYPOS!

Previous

FILE 1 // FILE 2// FILE 3 // FILE 4

also posted on here

.

.

.

.

.

Setelah menceritakan semuanya kepada Hyesoo (kecuali bagian di mana ia akan menikah dengan Sehun), sahabatnya itu sontak terkejut bukan main ketika mengetahui kalau Nayoung sudah diterima kerja di perusahaan yang sama dengannya. Kapan melamar pekerjaan saja Hyesoo tidak tahu. Bagaimana bisa langsung bekerja? Tapi Nayoung berusaha meyakinkan dengan segenap semangatnya yang menggebu-gebu, kalau ia benar-benar telah diterima kerja di sana. Hanya saja, bekerja sebagai apa, itu yang belum jelas.

Paginya, Hyesoo meminjamkan satu setel kemeja dan rok kerja yang biasa ia kenakan. Kemeja putih berpotongan simpel dengan kantung di bagian dada sebelah kiri itu ternyata melekat dengan sempurna di tubuh Nayoung. Rok berwarna hitam yang menunjukkan lekuk tubuh wanita itu juga menambah kesan anggun dan elegan. Nayoung seperti tidak mengenali bayangannya sendiri di depan cermin. Dirinya begitu berbeda. Bayangannya sekarang membuat Nayoung melihat sisi dirnya yang lebih tegar. Lebih siap untuk menghadapi hari esok.

Dan mereka pun berangkat bersama menuju kantor. Berjalan beriringan sambil sesekali mengobrol dan saling melempar tawa. Seperti sahabat yang baru saja berpisah kemarin dan bertemu lagi.

****

Nayoung sedikit meremas roknya ketika mendapati rasa gugup menjalari seluruh tubuhnya. Darahnya berdesir, dan jantungnya memompa sedikit liar.

Tenang Nayoung, kau akan baik-baik saja.

Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau semuanya akan baik-baik saja. Karena di balik pintu itu, sekarang sedang duduk calon atasan—sekaligus calon suami—yang menunggunya.

Tangannya baru hendak mengetuk permukaan pintu ketika seseorang menyapanya. “Im Nayoung-ssi?” Sang empunya nama menoleh dan seharusnya ia tidak perlu terkejut ketika mendapati Junmyeon sedang berdiri di sampingnya. Namun ia melupakan fakta kalau Junmyeon adalah seorang wakil direktur di sini.

“Ah, ne. Annyeonghaseyo,” ucap Nayoung seraya membungkuk.

“Tidak perlu seformal itu,” balas Junmyeon. Pria itu tersenyum dan Nayoung tidak menyangka kalau nada bicara Junmyeon ternyata tidak seperti yang diduganya. Nada bicaranya sangat ramah, seolah menyapa kembali teman lama. Berbanding terbalik dengan Junmyeon, saudara tirinya memang agaknya lebih suka berbicara dengan nada mengintimidasi yang membuat semua orang yakin kalau perbuatan mereka salah di hadapan Sehun.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Junmyeon, terselip nada bingung di sana.

“Em…Sehun menyuruhku untuk datang bekerja hari ini,” jawabnya ragu-ragu. Apa tidak apa-apa untuk memberitahu Junmyeon? Lagipula ini bukan seperti dirinya membocorkan rahasia negara, bukan?

“Ya, ampun. Anak itu benar-benar. Sepertinya, pasangan sedang kasmaran memang tidak bisa saling berjauhan. Bukan begitu, Nona Im?” Junmyeon berusaha sedikit menggoda Nayoung dengan nada jenaka. Di sisi lain, entah kenapa, mendengar perkataan Junmyeon justru membuat kedua pipi Nayoung memerah dan wajahnya mulai terasa memanas. Pria itu hanya terkekeh mendapati reaksi Nayoung. Ternyata Junmyeon tidak seburuk yang Nayoung pikirkan. Lebih baik dari Sehun, kalau boleh jujur.

Tiba-tiba pintu ruang kerja Sehun dibuka dan menampilkan sosok pria tegap berkulit pucat itu di ambang pintu. Ia melayangkan tatapan tidak suka dengan acara ramah-tamah Junmyeon dengan Nayoung.

Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana lalu menatap Junmyeon dengan malas. “Apa yang hyung lakukan di sini?” Junmyeon hanya tersenyum miring dan mendengus. “Aku hanya lewat dan tadinya berencana untuk memberi sedikit kunjungan untuk adik kesayanganku ini.” Sehun memutar bola matanya lantaran kelewat jengah. Yang benar saja, lidah manis memang kadang lebih berbahaya daripada yang kita bayangkan.

“Tapi sepertinya kau sibuk,” lanjut Junmyeon, “jadi sepertinya pertemuan kita sampai sini. Aku pamit kalau begitu.”

Setelah Junmyeon berjalan menjauh, Nayoung baru hendak angkat bicara ketika Sehun menariknya terlebih dahulu ke dalam ruangannya. Nayoung tidak bergeming sedikit pun. Tatapan Sehun terlalu mengintimidasi untuk sekedar ia balas. Ia merasa sedang ditelanjangi bulat-bulat sekarang. Sekarang ia tahu mengapa waktu itu teman-teman Hyesoo heboh sekali waktu dirinya adu mulut dengan Sehun. Ternyata atasan mereka itu memang mengerikan.

“Apa yang kau lakukan dengannya?” tanya Sehun tanpa basa-basi. Kalau Nayoung bisa menyimpulkan satu hal dari Sehun sekarang, adalah pria itu sama sekali tidak suka membuang waktu. Mengutarakan segala pikirannya dengan singkat, padat, dan jelas tanpa bertele-tele.

“Aku hanya mengobrol dengannya. Apa itu salah?”

“Sebaiknya kau jauhi orang itu. Jangan menilai buku dari sampulnya.” Nayoung memutar bola matanya. “Terserah.” Nayoung malas berdebat dengan Sehun. Lagipula tujuan ia datang ke sini bukan untuk berdebat dengan makhluk menyebalkan bernama Oh Sehun. Ia ke sini untuk bekerja.

Pemuda itu juga tampaknya tidak mempermasalahkan ketika si gadis memilih untuk tidak memperpanjang pembicaraan mereka dengan kakak tirinya sebagai subjek obrolan. Ia berjalan menuju meja kerjanya dan berhenti tepat di depannya, lalu berbalik menghadap Nayoung yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Sehun bersedekap, mengamati Nayoung sebelum berkata, “Duduk.” Dagunya ia acungkan ke sofa kecil di depannya.

Nayoung merasa semakin ciut sekarang. Dirinya beringsut duduk lalu sedikit menggeser posisinya untuk mencari posisi senyaman mungkin.

“Aku memanggilmu ke sini untuk menepati janjiku dan membuat kesepakatan denganmu,” ujar Sehun, memulai konversasi. Alis Nayoung bertautan.

“Kesepakatan?”

“Perjanjian lebih tepatnya. Dan uangmu sudah aku transfer.”

“Bagaimana bisa kau mengetahui rekeningku?”

I know things that you’ll never imagine, Miss Im.” Pernyataan Sehun yang satu itu membuat Nayoung bergidik ngeri sendiri. Nadanya lebih mirip seperti ‘aku bisa menemukanmu di mana pun kau bersembunyi’ dengan sedikit sentuhan misteri.

“Jadi, pejanjian apa yang kau maksud?” tanya Nayoung berusaha menghindari percakapan dengan aura mengerikan dengan Sehun.

“Perjanjian setelah kita menikah nanti,” jawab Sehun sambil lalu mengambil posisi duduk di sofa yang berhadapan persis dengan Nayoung, “pertama, kau harus melakukan semua tugas rumah tangga. Kedua, kau harus selalu menghubungiku saat hendak pergi, dengan siapa dan ke mana. Ketiga, tidak ada hubungan intim. Keempat, kau tidak boleh melakukan tindakan apa pun yang dapat merusak imejku di masyarakat.”

“Itu saja?” Sehun mengangguk. Nayoung mengedikkan bahunya dengan santai. “Deal.

Menurut Sehun, tidak butuh peraturan tertulis seperti kontrak untuk yang satu ini. Karena bagaimanapun, mereka akan menikah dan menjadi sepasang suami istri. Ah iya, menikah. Nayoung jadi mual sendiri kalau diingatkan dengan pernikahannya. Nayoung kira, Sehun tidak serius dengan segala hal tentang pernikahan itu, ternyata Sehun tidak main-main dengan perkataannya.

“Omong-omong,” kata Nayoung tiba-tiba, “apa nanti karyawan di sini tidak curiga kalau aku bekerja karena aku adalah calon istrimu?”

Sehun mengedikkan bahunya. “Kalau kau menggubris tentang pendapat setiap orang tentangmu, kau bisa mati gila.” Prinsip Sehun adalah kalau kau meladeni perkataan orang-orang, maka tidak akan ada habisnya, dan berujung pusing sendiri. Dan Sehun sudah cukup berterima kasih dengan masalah-masalah yang harus diurusnya sekarang. Ia tidak berniat sama sekali untuk menambah daftar masalahnya untuk mendengarkan setiap pendapat orang tentang dirinya.

“Dan kau bisa mulai bekerja bersama dengan sahabatmu,” seloroh Sehu tiba-tiba. Beberapa kali Nayoung mengerjap sebelum kembali menyadari sesuatu.

“Bagaimana kau tahu sahabatku bekerja di sini?”

“Bukankah aku sudah bilang tadi? Aku tahu segalanya.” Nayoung hanya mendengus kesal pada Sehun yang berlaga sok tahu tentang dirinya. Dan bagian menyebalkannya adalah semua yang Sehun katakan itu benar.

****

Sekarang Nayoung dikelilingi oleh Hyesoo dan rekan-rekannya. Mereka mengamatinya dari atas sampai bawah. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Persis seperti yang mereka lakukan ketika Nayoung waktu itu hampir mengeluarkan sumpah serapah pada Sehun di lorong kantor.

“Aku tidak percaya ini. Dunia ternyata benar-benar kecil,” seloroh salah seorang dari mereka yang Nayoung ketahui bernama Yeonhee. Wanita dengan surai hitam panjang dan kulit putih pucat yang tingginya hampir sama dengan Hyesoo.

“Sepertinya kita memang ditakdrkan bersama,” sahut yang lain dengan name tag bertuliskan Byun Baekhyun. Pria itu tubuhnya sedikit lebih tinggi dari Nayoung. Matanya kecil, nyaris sipit dengan kulit sedikit coklat karena matahari. Wajah dan umur pria yang satu ini acap kali mengecoh berbagai pihak. Terkadang kalau sedang terdesak, bisa disalahhgunakan olehnya. Pria ini juga menurut penilaian Nayoung, akan menjadi salah satu rekan kerja usil yang setiap kantor pasti punya satu eksistensinya. Dan di sini, Nayoung mendapat seorang Byun Baekhyun.

Ada satu lagi, namanya Do Kyungsoo. Pria itu hanya menyapa Nayoung, memperkenalkan diri, lalu berdiri diam seperti patung di sebelah Baekhyun. Alisnya tebal dengan tinggi yang hampir sama dengan Baekhyun. Dari air muka yang terpatri, Nayoung menilai kalau Do Kyungsoo adalah tipe karyawan yang disiplin dan melakukan segalanya dengan maksimal. Seseorang yang wajah dan namanya biasa terpampang di deretan karyawan teladan. Nayoung  baru menyadari kemampuannya menilai orang yang patut diapresiasi. Mungkin sebentar lagi, dirinya bisa ganti pekerjaan menjadi psikolog perusahaan.

Sementara Hyesoo hanya bersedekap tidak percaya. Benar kata Yeonhee, dunia itu benar-benar kecil. Di antara semua departemen yang ada di Sanders Group, mengapa Nayoung justru masuk ke dalam departemen desain? Bukannya tidak suka, hanya saja bingung.

Sesuai tebakan Nayoung, Kyungsoo adalah kepala tim dari tim desain ini. Kyungsoo mengajari beberapa hal dasar tentang desain apa yang perusahaan ini lebih condong gunakan, aturan-aturan di tim desain mereka, dan beberapa hal lain yang sebenarnya Nayoung dengarkan karena terpaksa. Untungnya, Kyungsoo irit bicara, jadi penjelasannya tidak terlalu lama, walau terasa seperti satu dekade telah berlalu. Mungkin beda perkara kalau Baekhyun yang menjelaskan, bisa-bisa satu dekade benar-benar terlewat kalau pria itu diberi kesempatan.

****

Hari pertama Nayoung bekerja ternyata tidak seburuk yang ia pikirkan. Harinya berjalan lebih mulus dari perkiraannya. Mengingat peruntungannya yang sepertinya benar-benar dikuras habis beberapa hari belakangan ini.

Gadis itu meregangkan kedua tangannya di udara saat menghirup udara luar. Hyesoo tidak ikut pulang bersamanya hari ini. Katanya ada kencan dengan si ketua tim. Hyesoo memang benar-benar. Bagaimana kalau nanti Nayoung diculik? Apa Hyesoo tidak kasihan sama sekali dengan sahabatnya yang malang ini? Ini kan sudah malam. Benak Nayoung baru saja penuh dengan segala sumpah serapahnya untuk Hyesoo ketika seseorang menepuk pelan pundaknya.

“Hei, kau mau pulang?”

“A-ah, iya, Tuan Kim.”

Eyy, kan sudah kubilang tidak usah terlalu formal. Just Junmyeon, please. Bagaimanapun kau adalah calon adik iparku.”

Nayoung mengerjap pelan. Entah karena udara di luar yang dingin atau karena Junmyeon, dirinya membeku ditempat. Ia belum sempat menjawab apa-apa ketika Junmyeon kembali bertanya, “Mau pulang bersama?”

“T-tidak perlu.” Ya ampun, mengapa Nayoung jadi segugup ini di depan Junmyeon? Bukan jenis gugup ketika bersiborok dengan Sehun di ruangannya tadi pagi. Jauh berbeda.

“Dia pulang bersamaku.” Tiba-tiba Sehun menginterupsi. Membuyarkan Nayoung dengan imajinasi dirinya yang berlatarkan kupu-kupu berterbangan. Tangan Sehun melingkar di pinggang Nayoung, yang membuat gadis itu sedikit berjengit karena tidak terbiasa dengan konsep Oh Sehun yang melakukan kontak fisik dengannya.

“Aku kira kau lembur, jadi aku menawarkan diri. Jangan salah paham, little bro,” jelas Junmyeon dengan jujur. Sejujurnya, Junmyeon itu pria yang baik. Ia tidak pernah menyakiti Sehun secara fisik maupun mental. Namun dengan paham Sehun bahwa Junmyeon adalah kakak tiri yang mungkin bisa mengalahkannya di perusahaan, entah mengapa membuat Sehun otomatis tidak  menyukai Junmyeon. Sebenarnya bukan masalah Sehun bisa pewaris selanjutnya atau bukan, hanya saja telah dididik untuk tidak tunduk dengan yang namanya kekalahan dari kecil, membuat pribadi Sehun menjadi sangat kompetitif.

Tangan Nayoung ditarik secara tiba-tiba oleh Sehun, membuatnya sedikit mengaduh.

Masalah pria ini apa, sih?!

Pria itu tak kunjung menyalakan mesin mobilnya. Ia hanya diam sambil memejamkan matanya. Rahangnya terlihat mengeras. Giginya terkatup menahan emosi. Lalu tiba-tiba ia berkata, “Bukankah sudah kubilang untuk menjauhinya?”

“Dia hanya menawarkan untuk mengantarku pulang. Dunia tidak akan kiamat jika aku menerima kebaikan orang lain.”

“Kukira kita sudah memiliki kesepakatan. Bukan begitu, Miss Im?” Nayoung hanya mendengus sebal karena tidak bisa membantah perkataan Sehun.

Dan detik selanjutnya, ia melajukan mobilnya. Dalam hati Nayoung merutuki Sehun. Pria itu punya masalah dengan ego dan sikap otoriternya. Harga dirinya yang setinggi langit juga tidak memperbaik keadaan sama sekali.

Gadis itu tidak mengatakan apa-apa dan langsung turun sesampainya di rumah Hyesoo. Nayoung baru saja hendak berjalan masuk ke dalam gedung tempat tinggal Hyesoo ketika kakiinya tiba-tiba terhenti karena teringat sesuatu.

Ia tidak membawa kunci.

Nayoung mengalami perang batin. Ini sudah malam dan ia tidak thau kapan Hyesoo akan pulang. Atau dalam kasus terburuknya, tidak pulang sama sekali. Dan satu-satunya harapan Nayoung sekarang hanyalah Sehun. Sementara di sisi lain, Sehun juga merupakan pilihan terakhir Nayoung untuk dimintai bantuan. Karena terlalu sibuk dengan pikiran-pikirannya, ia tidak sadar dengan sosok tinggi yang sedang berdiri sambil bersandar pada mobilnya dengan tangan terlipat seraya memperhatikan gelagatnya.

“Butuh sesuatu?”

“Ya Tuhan! Kau mengagetkanku!” seru Nayoung sembari mengusap-usap dadanya.

“Kenapa tidak masuk?”

“Err—begini, temanku pulang malam dan aku tidak membawa kunci apartemennya,” kata Nayoung sambil meringis memikirkan dirinya mati kedinginan di luar sini. Ia bahkan belum sempat memberikan uang kepada ibunya. Ia tidak boleh mati sekarang. Setidaknya tidak dengan cara seperti ini.

Sehun mengangkat sebelah alisnya. Namun selanjutnya,  ia juga terlihat sedang menimang-nimang sesuatu dalam pikirannya. “Kau…kau mau ikut ke apartemenku?” tanya Sehun tiba-tiba yang membuat gadis di hadapannya sedikit terkejut.

“Jika kau tidak keberatan, aku tidak akan menolak.”

“Tidak masalah. Ayo,” ujar Sehun lalu kembali masuk ke dalam mobil. Nayoung juga mengikuti Sehun dan masuk ke dalam mobil pria itu.

****

Sehun membuka pintu apartemen di hadapannya dan menyerongkan tubuhnya untuk memberi jalan masuk bagi Nayoung. Gadis itu telrihat sedikit ragu sebelum akhirnya masuk. Rasanya sedikit aneh kembali ke apartemen Sehun. Terakhir dirinya ke sini, ia berakhir dengan Sehun yang mengajaknya untuk menikah dengan cara yang tergolong tidak biasa.

“Kau mau mandi?” tanya Sehun tanpa melirik Nayoung sambil meletakkan kunci mobilnya di atas meja ruang tengah.

“Jika kau tidak keberatan.”

“Berhenti bicara begitu. Sebentar lagi ini juga akan menjadi rumahmu. Tunggu di sini sebentar,” kata Sehun yang langsung pergi masuk ke kamarnya. Pria itu keluar kembali lalu menyodorkan sesuatu pada Nayoung. “Ini, pakai ini. Mungkin sedikit kebesaran, tapi masih layak pakai.”

“Tidak masalah. Terima kasih,” balas Nayoung sebelum dirinya langsung masuk ke dalam kamar Sehun dan menuju ke kamar mandi.

Tidak berapa lama kemudian, Nayoung keluar dari kamar mandi dan mendapati Sehun yang sudah berada di atas ranjangnya sambil bersandar pada kepala ranjang dengan kedua tangan sebagai alasnya. Suara pintu kamar mandi yang ditutup membuyarkan lamunan Sehun. Pria itu menoleh dan matanya bertemu dengan manik milik Nayoung selama beberapa detik sebelum Sehun memutuskan kontak mereka.

Ia bangkit dari posisinya dan langsung berjalan masuk ke kamar mandi. Nayoung juga tidak ambil pusing, gadis itu melangkah keluar dan duduk di sofa berwarna merah di ruang tengah. Lalu dirinya teringat sesuatu. Dia segera mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat untuk ibunya.

Ibu, ini aku, Nayoung. Bagaimana kabar Ibu? Apa Ibu makan dengan baik? Ibu jangan khawatir, aku baik-baik saja di sini. Aku sudah mengirim uang ke rekening Ibu, tolong digunakan untuk membayar hutang Ayah. Tenang saja, aku tidak merampok bank atau semacamnya, Bu. Jadi Ibu tidak perlu khawatir.

Kirim

Tidak membutuhkan waktu lama sebelum ponsel Nayoung mulai berdering. Ia menggeser tombol hijau pada layar ponselnya lalu menempelkannya di telinga kanan.

“Nayoung?”

“Ibu…”

“Nayoung, bukankah sudah kubilang untuk tidak usah pergi ke Seoul?! Mengapa kau melawan perkataan Ibumu ini?! Apa kau tidak tahu kalau Ibu cemas bukan main dengan keadaanmu di sana?!” Ibu Nayoung menghela nafas panjang, “Nayoung….apa kau baik-baik saja?”

“Ibu, aku baik. Ibu juga baik-baik saja, kan?”

“Bagaimana Ibu bisa baik kalau anaknya menghilang tanpa jejak? Dasar anak durhaka.” Nayoung terkekeh mendengar ibunya.

“Ibu tenang saja. Aku bisa menjaga diriku dengan baik di sini. Lagipula ada Hyesoo yang membantuku di sini.”

“Kapan kau akan pulang, nak?” Pertanyaan ibunya membuat Nayoung bingung harus berkata apa. Dirinya tiak mungkin langsung memberitahu ibunya dengan blak-blakan kalau dirinya akan segera menikah, bukan? Bisa-bisa ibunya terkena serangan jantung.

“Aku…mungkin aku akan bekerja di Seoul untuk sementara waktu.” Ibu Nayoung kembali menghela nafas dan menghembuskannya dengan berat. “Tapi kau harus janji untuk pulang secepatnya.” Nayoung mengangguk cepat yang sebenarnya juga tidak akan bisa dilihat oleh ibunya. “Aku berjanji, Bu. Sudah dulu ya, Bu. Aku harus pergi.” Nayoung mematikan sambungan telponnya.

Matanya menatap kosong ke depan. Ada rasa bersalah dan khawatir karena meninggalkan ibunya sendiri di rumah. Namun ini yang terbaik.

“Siapa?”

“Astaga! Bisakah kau berhenti mengagetkanku?!” Sehun tidak peduli dengan omelan Nayoung. “Siapa?” Gadis itu memutar bola matanya karena kelewat kesal.

“Ibuku.”

“Kau bilang kita akan menikah?”

“Kau ingin ibuku terkena serangan jantung?”

Sehun tidak menjawab. Ia malah melanjutkan aktivitas mengeringkan rambutnya dengan handuk lalu berjalan ke arah dapur. Pria itu bahkan terlihat tampan hanya dengan balutan kaus putih polos dan celana training abu-abu tua.

Nayoung terlalu kalut dengan pikirannya sehingga tidak sadar kalau Sehun sebentar lagi selesai memasak ramyunnya. Sehun memanggil Nayoung untuk makan dan Nayoung tidak menolak karena perutnya mulai berteriak ‘Tolong isi aku!’. Ia baru tahu kalau orang kaya seperti Sehun juga makan ramyun. Ia kira selama ini Sehun selalu makan di restoran berbintang di luaran sana. Namun, di sini lah mereka sekarang dengan sepanci ramyun di tengah meja makan.

Mereka tidak bicara sama sekali selama acara makan berlangsung. Sehun mengunyah dengan damai dan Nayoung juga tidak berencna sama sekali untuk mengangu pria itu. Sebisa mungkin Nayoung mneghindari kontak mata dengan pria di seberangnya itu.

 Setelahnya, Nayoung menawarkan diri untuk mencuci peralatan makan dan Sehun tidak menolak karena tubuhnya sudah minta untuk diistirahatkan. Tidak butuh waktu lama bagi Nayoung untuk menyelesaikan tugasnya.

“Kau tidur di dalam saja, aku akan tidur di sofa.” Itu adalah kalimat terakhir Sehun sebelum Nayoung masuk ke kamar Sehun untuk tidur. Awalnya Nayoung hendak menolak dan memilih untuk tidur di sofa, tapi Sehun sudah terlanjur bergelung dengan selimutnya di atas sofa dan langsung terlelap. Pria itu terlihat sangat lelah tadi.

Karena Nayoung juga lelah bukan main, ia juga tidak protes ketika harus tidur di kasur yang empuk. Tidak butuh waktu lama baginya untuk memejamkan mata dengan sellimut dan bantal yang menemaninya di atas ranjang.

TBC

A/N :

Bonjour ^^ long time no see…maaf slow update karena liburan sudah berakhir dan kegiatan sehari-hari udah mulai berjalan normal lagi. Jadi, yah…sedikit lebih sibuk dari pada liburan. Mohon ditunggu selanjutnya yaa ^^.

Best regards,

Vi

Advertisements

14 thoughts on “The Lost and Love [FILE 5]

  1. Wahh udh dilanjut,ff nya ditunggu banget. Hehehe…
    Sehun perhatian juga ke nayoung,dia rela tidur di sofa dibanding di kasur. Ahhh ditunggu kelanjutannya,ditunggu momen sehun-nayoung,hehehe. Keep writing and fighting!!

    Liked by 1 person

  2. oh tidaaakkk…. belum apa” tp knp aura persaingan antara sehunbdan suho udah terasa bgt ya? padahal ini baru awal..

    suho licik nih kayaknya… apalagi pas dia tersenyum miring, aq rasa dia punya rencana jahat deh….

    dan jangan bilang kalau nayoung jg udh mulai tertarik ama suho… andwe….

    oke… ditunggu next nya, banyakin moment sehun-nayoung ya 🙂

    Liked by 1 person

  3. Sehun mulai baik aja ama Nayoung😄, bagus aja kok jadi nanti ada kemajuan hehehe aku bisa komen ceritanya aja terus maaf ya semangat terus jugaaaaa

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s