Learning To Love : Is She…

By : Vi 

Cast : Park Chanyeol (EXO), Lee Yeonhee (OC)

Genre : Marriage Life, AU, Romance

Length : Oneshot (series)

Rating : PG-17

Disclaimer : I own the plot and the stories. This story is purely mine, I created it myself from my own wild imagination. Cast besides OC(s) belongs to God and their relatives. I might have posted this story on another blog. Last but not least, please don’t be plagiators and siders! Thank you for your concern.

WARNING FOR TYPOS!

Previous

Learning to Love : Confession // Morning Kiss // Promise // Vacation // Nightmare // Obstacle // Annoyed // Children

.

.

.

.

.

Pagi itu kepala Yeonhee dilanda nyeri yang luar biasa. Kepalanya terasa berat. Kedua matanya bahkan terasa sangat berat walau hanya untuk dibuka. Tapi Yeoenhee tidak mengeluh kepada Chanyeol. Dirinya tahu Chanyeol akan khawatir berlebihan kepadanya. Padahal Yeonhee pikir ini hanya pusing biasa yang akan hilang dengan beberapa butir aspirin.

Wanita itu berusaha mendudukkan diri di pinggir ranjang meereka. Ia berusaha bangkit untuk menyiapkan sarapan bagi suaminya. Sekon selanjutnya saat Yeonhee mencoba untuk berdiri, wanita itu merasakan nyeri kembali menghujam kepalanya. Sontak ia memegang pelipisnya yang kelewat pening itu dengan tangan kanannya. Ugh, Yeonhee sungguh benci menjadi orang pesakitan seperti ini. Kedua matanya terpejam berusaha memfokuskan pandangannya yang sedikit berbayang.

Tidak beberapa lama Chanyeol akhirnya terlihat keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Chanyeol yang melihat pemandangan di depannya itu buru-buru menghampiri sang wanita dengan raut kelewat cemas.

“Sayang, kau baik-baik saja?” tanya Chanyeol dengan posisi berlutut di depan istrinya. Ia berusaha melihat wajah Yeonhee karena wanita itu sedang menunduk sambil memegangi pelipis kanannya. Yeonhee lantas mengangkat sedikit kepalanya. Membuat kedua netranya bersiborok dengan miik Chanyeol. Tangan kanannya tidak lagi memegang pelipis kanannya, beranjak turun menggenggam telapak tangan Chanyeol yang memegangi kedua lututnya erat.

“Hanya sedikit pusing, nanti setelah istirahat pasti baikan,” jawab Yeonhee sambil tersenyum simpul. Namun tak bisa dipungkiri bahwa kedua bibir Yeonhee pucat saat ini. Kedua matanya juga sedikit memerah. Chanyeol semakin gusar dibuatnya. Ia bisa seperti cacing kepanasan sendiri di kantor nanti jika meninggalkan Yeonhee dalam keadaan seperti ini sendirian di apartemen.

“Melihat kondisimu, sepertinya aku tidak akan ke kantor hari ini,” timpal Chanyeol. Dan sesuai dugaan Yeonhee, pria itu asti akan bersikukuh untuk menjaganya hari ini. Maka dari itu Yeonhee lebih memilih untuk diam daripada melapor sakitnya pada Chanyeol.

“Tidak, Chan. Kau harus tetap bekerja. Sungguh, aku tidak apa-apa,” ucap Yeonhee, “aku berjanji akan istirahat hari ini. Kau tidak perlu khawatir.” Tangan kanan Yeonhee kembali beralih. Kali ini ibu jari tangan kanannya mengusap lembut permukaan pipi pria di depannya.

“Janji kau tidak akan membuatku khawatir?”

“Aku janji. Tapi…aku belum membuatkanmu sarapan.”

“Jangan khawatirkan aku, aku bisa membeli makanan di jalan menuju kantor nanti. Lagipula kesehatanmu yang utama sekarang. Katanya ingin cepat punya anak, tapi kalau sakit begini, kapan aku bisa mendapat malakat kecilku?”

“Iya, iya, aku tahu.”

Chanyeol akhirnya bangkit dan berjalan menuju walk in closet milik mereka. Chanyeol keluar dengan balutan kemeja putih yang dilapisi dengan jas abu-abu. Kedua kakinya dibalut dengan celana senada yang mebuat paras rupawannya semakin menjadi. Dasi merah marun bergaris masih bertengger dalam keadaan belum terikat di lehernya. Pria itu sedang berusaha mengikat dasinya sendiri ketika tiba-tiba ada dua tangan yang dengan lancang mengambil alih pekerjaannya.

“Nah, sudah selesai,” seloroh Yeonhee dengan tatapan bangga menatap hasil karyanya sambil mengibaskan kedua tangannya. Chanyeol hanya terkekeh melihat tingkah Yeonhee. Dalam keadaan sakit saja wanita itu masih bisa bertingkah konyol. Pria itu lantas menarik Yeonhee dan mengecup dahinya lamat-lamat sebelum akhirnya berpamitan dan meninggalkan Yeonhee sendiri.

Setelah mengantarkan Chanyeol ke depan pintu, Yeonhee kembali melangkahkan kedua tungkainya menuju kamar tidur mereka. Sepertinya istirahat sebentar akan membuatnya jauh merasa baikan.

****

Yeonhee terbangun saat siang hari. Dan benar saja, kondisinya sekarang sudah jauh lebih baik dari tadi pagi. Wanita itu merenggangkan kedua tangannya di udara lalu beranjak turun dari persinggahan empuknya.

Rencana Yeonhee hari ini, ia akan berbelanja bahan makanan ke supermarket karena stok yang sudah menipis. Mengingat dirinya yang belum mandi, Yeonhee memutuskan untuk beralih ke kamar mandi terlebih dahulu guna membersihkan tubuhnya.

Wanita itu keluar dengan skinny jeans berwarna biru muda dan kaus putih polos yang membalut tubuhnya dengan apik. Dengan sedikit polesan make up di sana-sini, Yeonhee pun langsung berangkat ke supermarket.

****

Sambil mendorong troli belanjaan, Yeonhee berusaha mengingat-ingat apa lagi bahan yang dbutuhkan dalam persediaan kulkasnya. Sesampainya di depan kulkas terbuka dengan jejeran sayur-mayur, ia mengambil beberapa sayuran yang disukai Chanyeol. Masalahnya Chanyeol sangat pemilih dalam hal memakan sayuran. Benar-benar seperti anak kecil.

Baru setengah jalan memilih sayuran, Yeonhee sudah mulai kelelahan. Padahal tubuhnya bisa dibilang memiliki stamina lebih di antara wanita pada umumnya. Yeonhee lantas kembali mendorong trolinya dan memilih untuk tidak menggubris lelahnya

Setelah semua dirasa sudah masuk ke dalam troli belanjannya, Yeonhee memutuskan untuk segera berjalan ke kasir untuk membayar semuanya dan segera berjalan menuju pakiran. Ia memasukkan belanjaannya ke mobilnya dan dengan satu dorongan ia menutup pintu bagasi mobil.

****

Beruntung Yeonhee bertemu dengan satpam apartemen yang menawarkan bantuan kepadanya untuk mengangkut belanjaannya. Semua kantung-kantung belanjaan itu pun ia letakkan di konter dapur lalu kedua tangannya dengan lihai mulai menyusun satu per satu bahan-bahan makanan ke dalam kulkas dan kabinet-kabinet penyimpanan makanan.

“Akhirnya selesai,” gumam wanita itu sendiri. Sekarang ia bingung harus melakukan kegiatan apa. Masalahnya Yeonhee bukanlah tipikal wanita yang akan betah berdiam diri sendiri di rumah. Dan sekon selanjutnya, ia menyadari bahwa apartemennya ini terlihat sedikit berantakan. Maka dirinya memutuskan bersih-bersih sebagai tugas yang akan dilakukan selanjutnya.

Wanita itu mulai dari menyapu dan dilanjutkan dengan mengepel seluruh penjuru ruangan unit apartemennya. Yeonhee menatap puas hasil pekerjannya. Bantal-bantal sofa sudah kembali tertata dengan rapi. Karpet alas sofanya juga tidak lupa ia bersihkan dengan vacum cleaner. Namun, tidak berapa lama pusingnya kembali mendera. Dan kali ini lebih hebat.

“Ada apa denganku hari ini?” Sambil memegang kepalanya, Yeonhee berjalan ke arah dapur. Dirinya membasuh wajah di wastafel dapur. Ia berusaha mencari pegangan ketika pandangannya semakin mengabur. Kuat-kuat kedua tangannya menggenggam pinggir wastafel. Wanita itu agaknya hendak mengambil gelas untuk minum dari kabinet yang berada tepat di atas kepalanya. Saat hendak menutup pintu kabinet di atasnya, semuanya mendadak menjadi gelap. Hal selanjutnya yang ia ingat adalah hitam dan suara pecahan  kaca.

****

Aaaargh! Kenapa ponselnya tidak diangkat? Aku bisa gila kalau begini terus.” Chanyeol gelisah sendiri bukan main. Tampang pria itu terlihat kusut. Padahal dirinya mendapat cukup tidur tadi malam. Sehun, sepupunya, kebetulan sedang melakukan kunjungan “rutin” ke kantor Chanyeol. Dan pria albino itu malah dibuat bingung oleh perangai Chanyeol.

“Kau bertengkar lagi dengan Yeonhee?”

“Bukan itu. Ah sialan!”

Whoa, whoa. Tenanglah, kawan.”

Chanyeol mengusap wajahnya kelewat frustasi. Pikirannya sudah dibayangkan dengan hal yang tidak-tidak sekarang. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Yeonhee? Pria itu baru saja hendak keluar dari ruang kerjanya dan berinisiatif pulang ketika sekretaris Kim menghancurkan niatnya itu dengan berkata, “Maaf Tuan Park, lima belas menit lagi tender akan dimulai. Anda dimohon untuk bersiap-siap.”

Sial. Kalau saja ini bukan salah satu tender terpenting dalam tahun ini, Chanyeol pasti sudah akan berada di balik kemudi kuda besinya. Membelah jalanan Kota Seoul dengan kecepatan yang hampir tidak bisa dinalar. Namun Chanyeol harus bersikap rasional saat ini, ia benar-benar tidak bisa meninggalkan tender kali ini.

“Hun, bisakah kau cek keadaan Yeonhee di apatemenku?”

“Astaga pasangan ini membuatku hampir gila.” Pernyataan Sehun sukses dibalas dengan tatapan tajam dari Chanyeol, “Baiklah, baiklah. Tapi besok traktir aku makan siang.” Chanyeol memutar kedua bola matanya jengah namun lantas menjawab, “Terserah.”

Kedua tungkai Sehun pun berjalan meninggalkan ruangan Chanyeol. Sementara pria itu kini menyiapkan berkas-berkas yang akan dibawanya ke tender nanti.

****

Sehun memencet tombol pin pada pintu apartemen Chanyeol. Kalian bisa membayangkan seberapa besar kepercayaan Chanyeol pada Sehun hingga memberinya nomor sandi untuk apartemennya. Chanyeol memang sudah menganggap Sehun seperti adik kandungnya sendiri karena mereka sama-sama anak tunggal dan usia yang tidak terpaut jauh membuatnya dengan mudah akrab dengan Sehun.

“Halo…Yeonhee nuna. Apa kau di sana?”

Tidak ada jawaban. Walau begitu, Sehun tidak melihat hal janggal di sini. Sehun beranjak ke depan pintu kamar tidur Chanyeol dan Yeonhee. Dengan hati-hati ia mengetuk permukaan daun pintu di depannya.

Nuna, apa kau di dalam?”

Lagi-lagi tidak ada jawaban, bahkan hingga ketukan kelima. Pria itu pun akhirnya memberanikan diri untuk membuka sedikit pintu di depannya. Sedikit kurang ajar memang, mengingat kamar tidur sepupunya itu salah satu wilayah privasi Chanyeol. Namun Sehun bisa beralibi nanti dengan Chanyeol yang menyuruhnya untuk mengecek keadaan Yeonhee.

Lampu kamar mati dan Sehun menekan saklar lampu di sebelah pintu. DanbSehun kembali disuguhkan dengan kamar kosong. Bahkan ranjangnya masih tertata rapi seperti baru dibereskan. Sekali lagi Sehun mengoarkan suaranya, “Yeonhee nuna!” Lagi-lagi tidak ada jawaban. Lampu kamar mandi juga padam. Sehun bisa melihat dari gelap dibalik kaca yang berada di atas pintu kamar mandi di dalam kamar itu.

Sehun akhirnya melangkahkah kakinya keluar dari kamar. Kedua kakinya hendak melangkah ke balik meja makan di seberang dapur ketika ekor matanya menangkap benda tajam yang hampir melukai kakinya. Sehun membungkuk lalu memungut benda itu dari lantai, “Beling?”

Menyadari ada yang tidak beres, Sehun langsung bangkit dan melangkahkan tungkainya mengitari meja makan. Kedua obsidiannya pun dikejutkan dengan pemadangan terkulainya Yeonhee di atas lantai lengkap dengan ceceran beling di sekitarnya.

“Yeonhee nuna!” seru Sehun yang langsung berlutut di samping kepala Yeonhee lantas mengangkat kepala Yeonhee ke atas pangkuannya sambil menepuk-nepuk pipinya. Yeonhee tidak kunjung menunjukkan reaksi yang berarti. Dengan panik Sehun mengangkat Yeonhee ke dalam gendongannya dan membawanya keluar.

****

Sehun langsung melarikan wanita itu ke rumah sakit yang untungnya tidak begitu jauh dari apartemen. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia sudah menghubungi Chanyeol tadi. Dan sepertinya Chanyeol langsung menyerahkan nasib tendernya ke tangan Sekretaris Kim.

Sehun berjalan mondar-mandir di depan ruangan Yeonhee sambil menggigiti kukunya. Dirinya kelewat gelisah. Tak berapa lama, rungu Sehun menangkap derap langkah kaki orang yang sedang berlari mengarah padanya. Sontak ia menoleh dan mendapati Chanyeol yang sudah melepas jas abu-abunya. Dasinya juga sudah tidak terikat dengan baik lagi dengan rambut yang sedikit acak-acakan.

“Bagaimana keadannya?”

“Aku tidak tahu. Sudah satu jam ia di dalam.”

“Terima kasih sudah menolongnya, Hun.”

Hey,” seloroh Sehun lalu menaruh tangan kanannya di pundak kanan milik Chanyeol, sedikit meremasnya, “dia akan baik-baik saja, oke? Percaya padaku.” Bersamaan dengan itu seorang dokter keluar dari ruangan tempat Yeonhee berada.

“Suami dari Nyonya Yeonhee?”

Chanyeol dan Sehun maju serempak ke depan sang dokter. Dahi dokter itu berkerut bingung. Ia menatap Chanyeol dan beralih ke Sehun lalu berdeham.

“Maaf, tapi siapa suami Nyonya Yeonhee?” Sehun sadar dengan posisinya yang membuat bingung lantas berdeham dan mengambil langkah mundur.

“Saya suaminya, Dok.”

“Nyonya Yeonhee sudah sadar, Anda bisa menjenguknya sekarang. Kalau begitu saya permisi.”

Setelah mengatakan hal itu, dokter yang menangani Yeonhee pergi meninggalkan Sehun dan Chanyeol yang masih berdiri tegap di depan ruangan. Sebelum Chanyeol melangkah masuk, Sehun menepuk bahunya dari belakang. “Hyung, kalau begitu aku ke kantor dulu. Kabari aku keadaan kakak iparku, oke?” Chanyeol hanya mengangguk dan Sehun pun melambungkan langkahnya pergi menjauhi sepupunya.

Chanyeol lantas masuk, lalu ia menutup kembali pintu ruangan Yeonhee dan berjalan perlahan untuk sebisa mungkin tidak menghasilkan suara. Chanyeol bisa melihat Yeonhee sekarang. Wanita itu sedang duduk bersandar pada ranjang rumah sakitnya. Bibir Yeonhee pucat dan itu membuat hati Chanyeol sakit melihat keadaan istrinya.

Hey, kau sudah baikan?” tanya Chanyeol, ada nada khawatir di sana. Pria itu dengan sigap mengambil bangku yang berada tak jauh dari ranjang Yeonhee dan meletakkannya tepat di sebelah ranjang Yeonhee lalu duduk sambil menggenggam tangan kiri istrinya.

“Aku tidak apa-apa, Chan.”

“Bukankah tadi pagi aku sudah bilang kalau seharusnya aku menemanimu saja hari ini?”

But I am really fine, Chan.”

“Oh ya, aku lupa kalau baik-baik saja akan berujung dengan terbaring di rumah sakit.”

Yeonhee memutar bola matanya jengah. Setelah sadar, bukannya di sambut dengan sambutan hangat, ia malah dimarahi Chanyeol.

Memutuskan mengalah, akhirnya Yeonhee kembali buka suara. “Baiklah, baiklah, aku minta maaf. Aku sedang tidak ingin berdebat. Kasihan nanti dia dengar.” Alis Chanyeol naik sebelah. “Dia?” Wanita itu justru kembali mengulum senyum.

Bukannya memberi jawaban, Yeonhee justru menaruh tangan kanannya di atas perut. “It’s been four weeks now.” Pria di samping Yeonhee masih berusaha mencerna kata-kata istrinya. Alisnya menyatu dengan dahi yang berkerut.

What’s been four weeks?

“Aku hamil, Chan.”

Are you serious?!

“Untuk apa aku berbohong?”

Chanyeol langsung merengkuh Yeonhee ke dalam pelukannya. Mengecup sekilas bibir wanitanya, beranjak ke kening. “Terima kasih, sayang. Kau membuatku menjadi pria yang paling bahagia di dunia ini.” Walau untuk sesaat, biarlah Chanyeol dan Yeonhee kembali merasa bahwa dunia tidak akan bisa menjadi lebih sempurna lagi.

FIN

A/N:

Maaf kalau update series ini terlalu lama. Otak serasa mau kebelah-belah karena bikin 3 cerita chaptered dan series sekaligus :”. Buat fanfic baru dengan judul Redeem, aku belum bisa kasih kepastian kapan fanfic itu akan debut. Semoga secepatnya hehehe. Ditunggu yaa.

Best regards,

Vi

Advertisements

8 thoughts on “Learning To Love : Is She…

  1. ya ampun udh lama ga mampir ke sini sekalinya mampir langsung dapet kabar gembira
    waaah selamat chanhee akhirnya yg ditunggu2 dateng juga hihihi
    penasaran sma ngidamnya yeonhee wkwk

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s