The Lost and Love [FILE 2]

By : Vi 

Cast : Oh Sehun (EXO), Im Nayoung (OC)

Genre : Marriage Life, Romance, Angst, Hurt

Length : Chaptered

Rating : PG-17

Disclaimer : I own the plot and the stories. This story is purely mine, I created it myself from my own wild imagination. Cast besides OC(s) belongs to God and their relatives. I might have posted this story on another blog. Last but not least, please don’t be plagiators and siders! Thank you for your concern.

WARNING FOR TYPOS!

Previous

FILE 1

Nayoung berlari seperti dikejar singa buas dan mendapat tatapan aneh dari orang-orang yang dilewatinya. Walau pada kenyataannya, saat Nayoung berbalik, ia tidak mendapati pemuda tadi—Sehun—sedang mengejarnya. Kini Nayoung merasa dirinya adalah orang paling bodoh sedunia.

Gadis itu benar-benar buta dengan Seoul. Dirinya datang kemari untuk mencari pekerjaan lantaran ayahnya meninggalkan Nayoung dan ibunya dengan warisan sejumlah hutang yang jumlahnya tidak main-main. Dan berujung pada dirinya yang sampai dengan utuh di Seoul. Awalnya, Nayoung kira semuanya akan berjalan lancar karena salah satu sahabat Nayoung bekerja dan menetap di Seoul.

Ia berencana untuk menetap selama beberapa waktu di rumah temannya itu. Dan temannya juga bilang, bahwa ia punya pekerjaan yang bisa ditawarkan untuk Nayoung. Gadis itu senang bukan main mendengar dirinya mungkin berkesempatan untuk bekerja.

Namun sesuatu terjadi. Saat kemarin Nayoung tiba di stasiun, Hyesoo—sahabatnya—seharusnya menjemputnya, tapi tiba-tiba ia mendapat pesan kalau Hyesoo ada urusan penting mendadak. Hyesoo hanya mengiriminya alamat tempat Hyesoo tinggal dan alamat tempat Hyesoo bekerja. Dan berusahalah Nayoung untuk menemukan alamat yang dimakssud Hyesoo.

Nasib sial Nayoung tidak berhenti di situ, saat hendak mencoba menelepon Hyesoo, tiba-tiba ada seorang bocah laki-laki yang tidak sengaja berlari menabraknya, dan hal selanjutnya yang terjadi adalah ponselnya jatuh ke genangan air di pinggir jalan, tepat di depannya. Genangannya cukup dalam hingga membuat ponsel gadis itu mati total.

Nayoung tersesat dan putus asa. Lalu sepertinya dewi fortuna datang padanya, ada orang yang datang menghampirinya dan bertanya, “Apa kau butuh pekerjaan?” Nayoung yang sedang putus asa sontak langsung tergiur dengan kata “pekerjaan”. Gadis itu iya-iya saja diajak ke tempat bekerja yang dimaksud oleh orang tadi.

Namun menjelang malam, Nayoung mencium sesuatu yang tidak beres. Pekerjaannya tidak seperti yang dibayangkan. Ia masuk jebakan orang dan malah masuk rumah prostitusi. Nasibnya memang sering tidak beruntung, tapi kali ini Nayoung benar-benar sial. Gadis itu ketakutan setengah mati dan berusaha memutar otak supaya tidak perlu melayani laki-laki berhidung belang di luar sana.

Ia berusaha kabur dari sana dan berakhir dengan dirinya yang disudutkan di gang dekat apartemen Sehun. Lalu Sehun datang seperti pahlawan bagi Nayoung. Gadis itu terlalu lelah dan syok dengan apa yang dialaminya hari itu. Dan Nayoung pingsan seketika, lalu ketika ia membuka mata tadi pagi, tiba-tiba saja dirinya berada di apartemen orang lain. Parahnya seorang laki-laki. Untung saat membuka kedua matanya tadi, pakaiannya masih lengkap melekat pada tubuhnya.

****

Nayoung merutuki kebodohannya sendiri. Bagaimana ia bisa kehilangan dompetnya di saat yang genting seperti ini? Dirinya pasti sudah gila.

“Benar-benar! Di mana aku meninggalkannya?” Gadis itu mengacak-acak rambutnya sendiri lalu buru-buru merapikannya ketika sadar bahwa dirinya menjadi bahan tatapan orang-orang di sekitarnya. Nayoung mengerucutkan bibirnya dan merosot pada sandaran bangku taman. Ia berusaha memikirkan segala cara untuk menghubungi Hyesoo. Atau bahkan sedikit berharap bahwa Hyesoo akan turun dari langit dan menyelamatkannya.

Tiba-tiba Nayoung teringat sesuatu. “Kau sangat cerdas, Im Nayoung. Aku bangga padamu,” monolog Nayoung pada dirinya sendiri sembari menepuk-nepuk pundaknya sendiri penuh rasa bangga. Nayoung mengingat di mana Hyesoo bekerja. Akhirnya ia kembali menemukan secerca harapan. Semoga saja hari ini ia tidak sial lagi. Dengan antusias, Nayoung bangkit dari duduknya dan mulai melambungkan langkahnya lebar-lebar.

Bermodalkan kaki, ponsel rusak, dan bertanya pada orang-orang, akhirnya Nayoung sampai. Nayoung menaruh tangannya pada posisi hormat untuk menghalau sinar matahari sambil menengadah menatap puncak gedung. “Whoa, tinggi sekali,” decak Nayoung kagum. Baru kali ini ia melihat gedung pencakar langit dari dekat.

Gadis itu memberanikan diri untuk melangkah masuk. Orang-orang yang berpapasan dengan Nayoung di pintu masuk, menatapnya sedikit ragu. Pasalnya, Nayoung hanya mengenakan kemeja kotak-kotak dengan celana jeans ketat yang sudah belel, dipadukan dengan sepatu kets yang sudah usang.

Nayoung berjalan ke meja resepsionis tanpa mempedulikan tatapan-tatapan itu. Dirinya sudah terlampau terbiasa dengan tatapan itu; tatapan merendahkan. Jadi ia juga tak mau ambil pusing.

“Permisi, apa ada karyawan bernama Shin Hyesoo di sini?” tanya Nayoung kepada sang resepsionis. Sang resepsionis tersenyum kepadanya lalu menjawab, “Biar saya cek sebentar.” Nayoung mengangguk dan balas melempar senyum. Nayoung mengedarkan pandangnya ke setiap lantai yang berada di atasnya, sesekali berdecak kagum sebelum dehaman dari resepsionis membuyarkan dunia kecilnya.

“Kami menemukan hanya satu karyawan yang bernama Shin Hyesoo di sini dan Nona Shin Hyesoo bekerja di departemen desain.” Lagi-lagi Nayoung hanya mengangguk namun lantas mencondongkan tubuhnya kepada resepsionis tadi dan bertanya, “Apa aku bisa bertemu dengannya sekarang?”

“Sebentar, biar saya hubungi dulu.”

Si resepsionis terlihat sedang berbicara dengan telepon meja yang berada tak jauh dari jangkauannya. Tiba-tiba ia menutup telepon dengan kedua tangannya dan mencondongkan tubuh ke arah Nayoung lalu bertanya, “Maaf, Nona, siapa namamu?”

“Nayoung, Im Nayoung.”

Sang resepsionis kembali berbicara di telepon dan tidak lama setelahnya, ia menutup telepon lalu kembali beralih pada Nayoung. “Nona Shin sedang menuju ke sini.” Nayoung mengangguk (lagi). “Ah, baiklah, terima kasih.”

Nayoung sedang mengetuk-ngetuk sepatunya sambil menatap lantai keramik di bawahnya ketika mendengar seseorang menyerukan namanya. “Ya! Im Nayoung!” Fokus gadis itu teralih pada sosok wanita dengan balutan dress selutut berwarna kuning pastel dengan stiletto hitam mengkilap berjalan ke arahnya sambil melambaikan tangannya di udara. Nayoung memicingkan matanya dan wajahnya berbinar seketika. “Ya! Shin Hyesoo!”

Gadis Im itu berlari ke arah Hyesoo. Hyesoo pun sedikit mempercepat langkahnya. Lalu seperti sahabat yang terpisah selama lima tahun (memang faktanya seperti itu) mereka berpelukan dan mengabaikan tatapan orang-orang kantor. Mereka seolah asyik dengan dunia mereka sendiri.

Hyesoo memukul pelan lengan Nayoung. “Ke mana saja kau? Aku khawatir setengah mati ketika kemarin tidak menemukanmu di tempat tinggalku.” Sementara yang diajak bicara hanya mendesah berat dan panjang. “Ceritanya sangat panjang.”

****

Nayoung bingung apa dirinya harus sedih atau justru lega dengan kkematian ayahnya. Katakan saja ayah Nayoung bukanlah orang paling baik di dunia ini. Beberapa hari yang lalu beliau meinnggal dunia karena bunuh diri. Ibu Nayoung berduka dan bersedih, tapi tidak dengan putri semata wayangnya.

Gadis itu benci dengan ayahnya. Ayahnya bukanlah tipe ayah yang akan menggendong Nayoung dan menenangkan Nayoung saat terjatuh. Bukan.

Sebelum ayahnya meninggal, hampir setiap hari, Nayoung selalu melihat ibunya dipukul. Sekujur tubuh Nayoung bahkan sering terdapat luka lebam karena berusaha untuk melindungi ibunya.

Awalnya, Nayoung kira, setelah ayahnya meninggal, semua masalahnya akan selesai dan ia bisa hidup dengan damai bersama sang ibu. Namun dirinya salah besar, karena sekarang ia dihadapkan dengan masalah baru yang diwariskan oleh mendiang ayahnya.

“Kalau kau tidak segera membayar hutang-hutang ayah keparatmu itu, maka dia,” ujar salah seorang dari mereka sambil mengacungkan telunjuknya ke arah ibu Nayoung, ” hoho…kau bahkan tidak akan ingin tahu denngan apa yang akan kami lakukan padanya.”

Tenggorokan Nayoung tercekat. Tidak, ibunya sudah terlalu menderita selama ini. Ia tidak bisa membiarkan nyawa ibunya dalam bahaya. Dengan kedua manik yanng bergetar, akhirnya ia memberanikan diri untuk mengeluarkan vokalnya. “Setidaknya berikanlah kami waktu.”

Kedua pria itu saling menatap dan saling mengacungkan dagu sebagai isyarat ‘Bagaimana menurutmu?’. Salah satu dari mereka pun berjalan mendekat dan membuat Nayoung ikut melangkah mundur dengan tangan direntangkan untuk melindungi ibunya.

“Baiklah, kuberi kau waktu dua minggu. Lebih dari itu,” pria itu memberi jeda sambil melakukan gerakan memotong leher dengan tangannya. Setelah itu mereka berdua berjalan keluar dari rumah Nayoung seraya dengan lantang berseru, “Dua minggu!”

Ibu Nayoung jatuh lemas di lantai. Dirinya bertanya-tanya mengapa nasib buruuk selalu saja menimpa keluarga mereka. Dan ia juga merasa sangat menyesal bahwa anaknya harus turut ikut merana bersama dengannya.

Nayoung berjongkok di depan ibunya lantas mengusap-usap kedua lengan atas ibunya. “Ibu tidak usah khawatir. Aku pasti bisa mengumpulkan uang itu.” Ibu Nayoung hanya tersenyum lalu mengusap kepala anaknya.

Gadis itu membantu ibunya berdiri dan menuntunnya untuk duduk di kursi rumah mereka. Rumah mereka sangat sederhana. Tidak jelek namun tidak masuk kategori bagus juga.

****

Nayoung sudah membicarakan ini dengan ibunya. Namun agaknya, ibu Nayoung memang tidak setuju kalau anaknya harus merantau ke Seoul seorang diri. Bagaimanapun, Nayoung adalah seorang perempuan, dan ibunya tidak bisa membayangkan akan jadi apa anaknya di Seoul nanti tanpa ada yang mengawasinya. Tapi tekad Nayoung sudah bulat kali ini. Ia harus pergi dan mencari pekerjaan di Seoul demi ibunya. Lagipula sahabatnya sudah berjanji akan membantu Nayoung.

Tangan gadis itu bergerak dengan hati-hati, menorehkan setiap silabel di atas kertas putih dengan sungguh-sungguh. Setelah selesai dengan untaian kata yang terlaksana lewat sepucuk surat, ia lantas mengeratkan jaketnya lalu menggendong tas ranselnya. Dengan langkah hati-hati, Nayoung masuk ke dalam kamar ibunya dan menyelipkan surat di samping kepala ibunya.

Gadis itu memandang ibunya lamat-lamat. Memandang bagaimana kerutan di wajah cantik ibunya mulai bermunculan, selah menjadi saksi bisu penderitaan ibunya selama ini. Nayoung mengecup lembut kening ibunya dan melangkah keluar.

Sebenarnya Nayoung takut kalau-kalau terjadi sesuatu yang buruk pada ibunya selama tidak ada dirinya nanti. Namun di sisi lain, ia lebih khawatir lagi jika para rentenir itu benar-benar melaksanakan ucapan mereka.

****

Esok paginya, Nayoung sudah melangkahkan kakinya di Seoul untuk yang pertama kalinya. Senyum sumringah menghiasi wajahnya. “Jadi ini yang namanya Seoul,” gumam Nayoung sambil memutar kepalanya untuk mengamati sekitarnya.

Nayoung merentangkan tangannya sambil menengadahkan kepalanya ke atas lalu menghirup udara dalam-dalam. “Haaah, pagi yang cerah untuk hari yang cerah,” ia menurunkan tangannya lalu menatap lurus ke depan dengan penuh tekad, “Im Nayoung, fighting!

Dengan langkah berderap, ia berjalan sampai di tempat penjemputan kedatangan para penumang. Ia berdiri tepat di pinggir jalan hendak menyebrang melalui zebra cross yang berada di depannya. Ketika baru hendak melangkahkan kaki kanannya, tiba-tiba ponsel di saku celananya bergetar. Ada satu pesan masuk. Ia membuka pesan singkat yang masuk lalu mendapati bahwa pengirimnya adalah Hyesoo.

From: Hyesoo

Young-ie, maaf, sepertinya aku tidak bisa menjemputmu hari ini. Baru saja aku diberitahu atasanku kalau akan ada rapat lima belas menit lagi. Aku akan mengirimkan alamat tempat tinggal dan bekerjaku.

“Bagus sekali,” ucap Nayoung sarkas. Tidak lama setelah itu, ada notifikasi lainnya masuk yang berisi pesan dengan alamat yang dimaksudkan Hyesoo tadi.

Ia baru hendak menelepon Hyesoo untuk memberinya arahan sebaiknya naik apa untuk sampai ke alamat tempat tinggal atau alamat bekerjanya. Dan sekon selanjutnya, tanpa Nayoung sadar, ada bocah lelaki yang berlari ke arahnya. Usianya mungkin sekitar lima sampai enam tahun.

BUGH!

“Tidak!” Nayoung bersuara, nyaris berteriak. Ia tidak jatuh, tapi ponselnya yang menjadi korban. Buru-buru Nayoung berjongkok untuk mengambil ponselnya yang kini sudah terendam genangan air di depannya. Nayoung mencoba memastikan keadaan ponselnya dengan menekan tombol power. “Ayolah, menyala. Kumohon menyalalah,” rancau Naoyung. Namun benda persegi itu tak kunjung menyala. Nayoung memukul-mukul ponsel ke telapak tangannya lalu kembali melihat layarnya. Tidak ada perubahan, layarnya tetap saja hitam.

Tamat sudah riwayat Nayoung. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. “Bagaimana ini?” monolognya kelewat frustasi. Untung Nayoung sudah sempat melihat alamt yang dikirmkan Hyesoo tadi. “Oke, Nayoung, kau tinggal mencari cara untuk sampai di alamatnya.” Ia memejamkan mata seraya menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.

Ia memutuskan untuk naik kereta bawah tanah. Nayoung pergi ke stasiun kereta bawah tanah terdekat, lalu setelah mengamati peta rute, dirinya memutuskan untuk membeli tiket sekali jalan meuju tempat yang dimaksud Hyesoo. Nayoung mengeratan genggaman tangannya pada tali ranselnya sambil menunggu kereta datang. Semoga saja ia bisa selamat sampai tujuan.

Nayoung melangkahkan kedua tungkainya masuk ketika keretanya datang. Ia langsung mengambil tempat duduk di kursi yang terletak persis di sebelah pintu. Sambil memangku ranselnya, dirinya menyadarkan tubuhnya ke belakang. Sayup-sayup mata Nayoung mulai terasa berat. Dan sekon selanjutnya, Nayoung sudah jatuh tertidur.

****

Ia merutuki kebodohannya sendiri. Bisa-bisanya ia tidur di kereta tadi. Alhasil kini Nayoung benar-benar tidak tidak tahu di mana dirinya berada. Lantaran terlampau frustasi, ia mengacak surainya.

Menurut salah seorang pejalan kaki yang ditanyanya tadi, ia sedang berada di daerah Cheongdam. Nayoung sering dengar kalau daerah Cheongdam merupakan kawasan rumah-rumah para orang kaya berdiri. Pantas saja sepanjang mata memandang, ia tak henti-hentinya melihat berbagai macam hunian mewah. Mulai dari apartemen dengan arsitektur unik yang menjulang tinggi hingga rumah-rumah yang Nayoung perkirakan akan muat dua puluh kali rumahnya.

Nayoung tersenyum miris jika harus membandingkan keadaan orang-orang di sini dengan keadaan hidupnya. Dengan nayamannya orang-orang di sini hidup bergelimang harta yang jumlahnya bahkan tak berani Nayoung baayangkan sebelumnya. Ia merasa mereka sangat beruntung bisa hidup tanpa dikejar para penagih hutang. Nayoung bukan mengeluh dengan keadaan hidupnya dan merasa bahwa kehidupannya adalah kehidupan paling menyedihkan di dunia ini. Tidak, sungguh. Ia hanya merasa betapa bahagia ibunya jika ia bisa memiliki uang sebanyak yang mereka miliki di sini.

Gadis itu cepat-cepat menggeleng dan mengenyahkan segala hal yang baru saja melinas di benaknya. Ia harus fokus dengan tujuannya kemari. Ia harus membantu ibunya apa pun yang terjadi.

Dengan langkah gontai, Nayoung memutuskan untuk duduk di bangku halte yang berjarak sepulu meter darinya. Tubuh Nayoung mulai lemas karena belum diasup dengan makanan apa pun. Jika tahu begini, ia pasti akan mempersiapkan diri lebih matang dan mungkin bisa membawa beberapa potong roti.

Wajahnya terlihat gusar, tatapannya kosong ke depan. Lalu tidak lama, ia mengerang frustasi sambil mengusap kasar wajahnya. “Hidup ini benar-benar tidak adil. Aaaaargh!” Tanpa Nayoung sadari, orang di sebelahnya sedang memperhatikan perangai Nayoung yang telrihat begitu putus asa.

“Apa hari ini begitu buruk, Nona?” Nayoung menoleh dengan alis berjingkat sebelah. “Jangan khawatir, aku hanya berusaha menjadi teman ceritamu,” timpal pria di sebelah Nayoung. Gadis itu akhirnya mendesah berat.

“Tuan, percayalah, hariku benar-benar buruk.”

TBC

A/N:

Hai hai ^^ aku bingung mau ngomong apa. Ah iya, berhubung minggu depan mau pulkam (ahcie) jadi mungkin update sedikit ngaret, kawan. Mohon dimaklumi. Makhluk absurd ini juga butuh pulang kampung dan liburan. Oh ya, sekarang Vi hadir di wattpad (ga penting sih, tapi pengen kasih tau aja /plak/) bisa klik di sini atau cari user name @avatar812 di wattpad ^^.

Dan aku ga tau ini kabar gembira atau bukan, tapi ada FF baru lagi yang mau dipublish. Mungkin berkah di bulan Ramadhan, ide jadi banyak ngalir :v. Semoga aja FFnya ga ada yang berhenti tengah jalan, ya. AMIN.

Numpang curhat bentar karena potek-potek sama Mas Ceye. Begadang nulis FF sampe jam setengah empat pagi, berniat baik untuk para readers. Dan hati ini malah dibabat abis dengan TL Line yang isinya kissing scene full milik Mas Ceye dan Mba Yuan :”) Aku rapopo kok mas. Aku tau Mas Ceye kerja, jadi ga bisa protes, dia juga manusia, punya rasa punya hati~ /nyanyi/. Ngakak juga sih ngeliat dia ciuman :v kan anaknya pecicilan ga bisa diem, terus tiba-tiba disuguhkan dia yang serius lalu nyipok anak gadis om-om Tiongkok. Udah ah, entar lebih panjang dari FFnya sendiri :”).

Best regards,

Vi

Advertisements

20 thoughts on “The Lost and Love [FILE 2]

  1. waaaah…..kurang pnjg kak….
    ini ceritanya flasback semua ya?
    menurutq sih diawal kan udh diceritain gimana dia bisa smpai ke seoul, tp koq smpe cerita terakhir ttep flashback terus ya?
    mana kisah lanjutan kmren kak?
    aq gk sabar nunggu moment sehun dan nayoung krmbali 🙂

    Liked by 1 person

    • Iy ini flashback semua, biar jelas dia nyampe seoul gmn. Masa naik awan ajaib? :v tenang aja, chapter 3 lumayan greget kok /evil smile/ thank you reviewnyaa yaaa ^^

      Like

  2. Ngga bisa bnyk komen karena ffnya udah bgus , dan krn susah utk aku cri kekurangannya. Itu krn aku sellu fokusnya ama sehun dan nayoung 😂😘
    aku mau usahain akan comen setiap chap nya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s