The Lost and Love [FILE 1]

By : Vi 

Cast : Oh Sehun (EXO), Im Nayoung (OC)

Genre : Marriage Life, Romance, Angst, Hurt

Length : Chaptered  

Rating : PG-17

Disclaimer : I own the plot and the stories. This story is purely mine, I created it myself from my own wild imagination. Cast besides OC(s) belongs to God and their relatives. I might have posted this story on another blog. Last but not least, please don’t be plagiators and siders! Thank you for your concern.

WARNING FOR TYPOS!

Semua orang mengenalnya sebagai Oh Sehun. Sang penerus perusahaan properti paling berpengaruh di Korea Selatan, Sanders Group. Dan di sinilah Sehun sekarang, duduk di ruang makan di rumah bak istana milik ayahnya (atau ayah angkatnya, lebih tepatnya) yang menurutnya lebih mirip seperti neraka.

“Kapan kau akan berhenti bermain-main, huh?!” Pertanyaan yang keluar dari kedua bibir milik Oh Junho itu agaknya adalah pertanyaan retoris. Toh, kalaupun Sehun berusaha menjelaskan, ayahnya itu tidak akan mau mendengarkannya. Tidak memberinya kesempatan bicara, lebih tepatnya.

Sehun yakin, ibu tirinya pasti sekarang sedang bersuka cita menguping pembicaraan mereka. Ingin sekali saja Sehun melontarkan argumennya, namun ayahnya itu juga akan berakhir dengan menaikkan volume dan nada bicaranya pada Sehun. Dan melihat wajah ayahnya semakin memerah dengan urat yang timbul di permukaan lehernya, Sehun merasa akan lebih bijak baginya untuk tetap diam.

Oh Junho melempar koran pagi di atas meja makan, tepat di depan wajah Sehun. Dengan berita utama yang menurut Sehun terlalu berlebihan. Yang kurang lebih memuat berita tentang dirinya yang mengemudi dalam keadaan mabuk dan berakhir dengan satu pejalan kaki yang harus dirawat intensif di rumah sakit. Hey, lagipula ini bukan sepenuhnya salahnya. Salahkan pejalan kaki itu menyebrang tidak lihat-lihat.

“Kau…ini terakhir kalinya kuperingatkan kau untuk main-main. Dan sebaiknya kau tidak menguji batas kesabaranku,” geram Junho. Pria yang telah berusia lebih dari setengah abad itu sudah terlampau jengah dengan kelakuan putranya yang satu ini.

Sehun menatap ayahnya datar, kelewat tak minat mendapat ceramah pagi. “Apa Ayah sudah selesai? Kalau sudah aku permisi dulu,” pamit Sehun. Pria itu memundurkan kursinya untuk berdiri lalu membungkuk kecil. Kedua kakinya berderap meninggalkan ayahnya duduk di kursi meja makan yang terletak di tengah paling ujung meja. Kilatan amarah jelas berkobar di kedua mata Junho.

****

Di balik kuda besinya, Sehun memecah jalanan Kota Seoul dengan kedua tangan yang memegang kendali atas kemudi di depannya. Buku-buku jarinya memutih. Kedua tangannya menjadikan kemudi mobil sebagai pelampiasan atas kemarahannya.

Dan di sinilah Sehun sekarang, duduk di kursi tinggi meja bar di klub malam langganannya. Dari balik meja bar, Jongin membalikkan tubuhnya menghadap Sehun. Kedua tangannya direntangkan di atas meja bar untuk menopang bobot tubuhnya.

Man, I saw the news.

Don’t you dare to bring up that shit.”

Kursi di sebelah kiri Sehun berputar menghadapnya pula. “Whoa, dude! Aku tahu kau gila, tapi kau tidak bodoh,” cerca Chanyeol lalu menandaskan isi gelasnya dalam sekali teguk. Sehun memutar kedua bola matanya. Ia tidak pergi ke sini hanya untuk kembali mendengar ocehan menyebalkan dari kedua sahabatnya.

“Bisakah kalian diam? Lagipula itu bukan sepenuhnya salahku.”

“Lalu apa kata ayahmu?” Chanyeol tidak peduli dengan Sehun yang menyuruhnya diam.

“Ancaman kosong yang sudah basi. Dan dia bukan ayahku.” Jongin dan Chanyeol hanya geleng-geleng. Mereka tidak tahu sejarah buruk apa yang membuat Sehun begitu membenci ayah angkat beserta ibu tiri dan saudara tirinya itu. Mereka memang bershabat, tapi Sehun bukanlah tipikal orang yang terlalu suka cerita tentang masalah-masalah atau seluk beluk mengenai dirinya.

Atensi Sehun tak kunjung berpindah dari gelas kosong di tangannya ketika Chanyeol menepuk pundaknya. “Kurasa kita harus bersenang-senang hari ini. Kurasa si merah di sana cocok untukmu,” seloroh Chanyeol dengan telunjuk yang diacungkan ke arah seorang gadis dengan mini dress merah ketat dengan potongan yang mengumbar setidaknya setengah dari belahan dadanya.

“Tidak terima kasih. Aku sedang tidak minat.” Sehun turun dari kursinya lalu menyambar kunci mobilnya yang ia taruh di atas meja bar. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju pintu keluar. Hari ini benar-benar hari yang tidak ada enak-enaknya sama sekali menurut Sehun. Dirinya bahkan tidak mendapat cukup tidur dari hari sebleumnya karena harus mengurus korban yang ia tabrak.

Belum lagi dengan wajahnya yang cukup populer di media masa membuat banyak perhatian tertuju ke arahnya. Ia keluar dari rumah sakit saat subuh menjelang pagi. Dan coba tebak apa? Wartawan langsung mengerumuninya seperti terdakwa terorisme.

Satu jam setelah kedatangannya di rumah, ayahnya langsung memanggil Sehun turun ke ruang makan. Dan ya, percakapan antara ayah dan anak itu pun terjadi. Yang pasti ayahnya tidak bertanya:

Bagaimana harimu?

Apa kau sudah makan, Nak?

Mau liburan bersama?

Sehun bahkan tidak pernah berani untuk membayangkan ayahnya akan mengatakan itu semua. Awalnya Sehun tidak berencana sama sekali untuk pulang ke rumah ayah angkatnya karena ya, ia bisa menebak akan jadi apa dirinya jika masalah ini sampai tercium oleh sang ayah. Namun entahlah, sepertinya Sehun meninggalkan sesuatu yang penting di rumah dan terpaksa kembali. Dan setelah Sehun meninggalkan ayahnya di ruang makan tadi pagi, pria itu menghabiskan waktunya entah untuk apa hingga berujung berada di bar malam ini.

Sehun muak dengan semua ini. Sehun muak dengan hidupnya. Orang merasa dirinya berkelimpahan harta dan dengan sekali jentikan jari akan ada lusinan pelayan yang siap melaksanakan perintahnya kapan saja. Tapi mereka semua salah. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Begitu pun dengan hidupnya.

Tapi agaknya kejadian tempo hari itu tidak membuatnya jera. Buktinya sekarang Sehun kembali berkendara dalam keadaan mabuk. Walau ya, tidak separah sebelumnya. Namun tetap saja. Bagaimana kalau kali ini dirinya justru tidak sengaja menabarak kucing yang sedang menyebrang? Sehun membayangkan itu menjadi berita hangat dengan judull “Tabrak Lari Seekor Kucing Oleh Calon Pewaris Sanders Group“. Menggelikan. Tapi para wartawan memang sepertinya suka sekali ikut campur dalam kehidupan Sehun. Seperti di luar sana tidak ada artis atau subjek lain yang lebih menarik untuk dijadikan bahan berita saja.

Pria itu tidak berencana untuk pulang hari ini. Sehun lebih memilih untuk tinggal di apartemennya. Apartemen yang ia beli secara diam-diam di mana hanya ia dan Tuhan yang tahu tempatnya. Sehun tidak seceroboh itu untuk tinggal di salah satu apartemen milik perusahaan ayahnya.

****

Setelah memarkirkan mobilnya, pria itu naik ke lantai bagian atas gedung menggunakan lift. Telunjuknya dengan sigap menekan angka dua belas lalu dengan santai bersandar pada dinding lift. Lift berdenting dan pintu terbuka ketika panel menunjukkan angka digital dua belas.

Langkah gontai Sehun berderap di sepanjang koridor. Jarinya kembali menekan kombinasi angka pin unit apartemen miliknya. Sehun membuka pintu lantas masuk dan disusul dengan bunyi pintu ditutup.

Otaknya butuh penjernihan. Jadi mandi malam sepertinya tidak ada salahnya. Di bawah guyuran air pancuran, banyak hal terlintas dalam kepala Sehun. Kenangan indah bersama ibu angkatnya. Saat dulu terasa hidup tidak akan bisa lebih sempurna lagi. Saat Sehun naik di punggung ayah angkatnya bermain kuda-kudaan bersama. Tawa hangat keluarga kecil mereka yang memenuhi seluruh penjuru rumah. Sehun merindukan masa-masa itu.

Kala itu Sehun masih kecil. Ia tidak bisa meminta lebih karena ia merasa telah memiliki segalanya. Setelah kedua orangtua kandungnya meninggal karena kecelakaan ketika usianya belum lebih dari tiga tahun, anak itu menjadi pendiam. Ia diserahkakn ke panti asuhan, menjadi anak yang selalu meringkuk di ujung ruangan ketika yang lain sibuk bermain dengan kawan sebayanya. Dan dua tahun setelahnya Oh Junho dan istrinya datang bak superhero bagi Sehun kecil yang kala itu sangat terpuruk.

Awalnya Sehun lupa dengan apa yang namanya kasih sayang orangtua. Tapi kehangatan dan cinta yang diberikan oleh Junho dan istrinya kembali membuat Sehun kecil menemukan secerca cahaya terang. Dan itu membuatnya menjadi kembali menjadi Sehun yang periang dan ceria.

Tapi entah memang takdir membencinya atau bagaimana, saat usianya sepuluh tahun, ibu angkatnya juga pergi meninggalkannya. Ayahnya terpuruk. Sehun terpuruk. Semenjak itu Junho menjadi pribadi yang sangat asing bagi Sehun. Sehun tidak lagi menemukan tawa dan senyum yang dulu selalu menghiasi wajah ayah angkatnya itu. Sehun tidak pernah memandang Junho sebagai orang yang sama sejak itu. Ayahnya berubah dan Sehun juga berubah. Sejak ibu angkatnya meninggal, ayah angkatnya juga pergi.

Ayahnya mulai mendidiknya dengan keras. Melatihnya untuk tangguh menghadapi dunia luar yang kejam. Melatihnya untuk menjadi penerus Sanders Group yang kuat. Dan bisa dibayangkan seberapa besar tekanan yang dihadapinya kala itu. Bocah berusia sepuluh tahun yang sudah dua kali kehilangan orangtuanya harus dihadapkan dengan situasi seperti itu. Membuat luka batin yang berbekas hingga sekarang. Menumbuhkan trauma mendalam tersendiri bagi Sehun.

Saat usianya empat belas tahun, Junho membawa pulang seorang wanita dengan seorang bocah lelaki dalam genggamannya. Sehun masih ingat dengan jelas apa yang dikatakan ayahnya waktu itu.

“Ini adalah calon ibu dan kakak tirimu.”

Mimpi buruk Sehun kembali datang untuk yang kesekian kalinya. Sejak awal pertemuannya dengan keluarga barunya itu, Sehun sudah mencium ketidaksukaan yang memancar begitu kuat dari keduanya. Hanya saja topeng yang mereka pasang, entah kenapa cukup tebal untuk menyembunyikan tabiat mereka kepada Sehun selama ini.

Sehun tahu kalau Yoon Ahyoung, ibu tirinya, sudah berencana membuat anaknya, Kim Junmyeon, untuk menjadi penerus Sanders Group selanjutnya. Dan berencana menjatuhkan Sehun bagaimanapun caranya.

****

Pria itu keluar dari kamar mandi dengan kaus hitam polos dan celana training abu-abu yang sudah membalut pas tubuhnya. Ia membaringkan diri sambil menatap langit-langit kamar. Sehun berharap dirinya bisa segera terlelap dan sejenak melupakan segala masalahnya. Tapi kedua kelopak matanya tidak mau sinkron dengan kemauannya.

Sehun membalikkan tubuhnya ke kanan lalu ke kiri dan tidak membuahkan hasil sama sekali. Sehun mengacak frustasi rambutnya lantas duduk di ranjangnya. Ia menghela nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan sambil memejamkan kedua matanya. Pria itu memutuskan untuk turun dari tempat tidurnya dan melangkahkan kakinya keluar.

Sehun meyambar jaket yang digantung di dekat pintu apartemennya. Tangannya menekan kenop pintu lalu keluar. “Hari ini benar-benar tidak bisa lebih baik lagi,” sarkas Sehun. Dengan langkah lebar-lebar, ia berjalan menuju lift dan segera masuk ketika pintu lift terbuka.

Mencari udara segar di luar apartemen sepertinya tidak terlalu buruk, bagi Sehun. Pria itu belum menghirup udara segar sama sekali hari ini. Ia hanya berniat berjalan di sekitar pelataran apartemen dan tidak berniat berjalan jauh-jauh. Toh hanya sekedar melepas stres sejenak yang nyatanya tidak terbantu sama sekali dengan pengaruh minuman beralkohol tadi.

Dirinya tidak perlu takut ditatap orang-orang karena sekarang sudah tengah malam. Sehun menengadahkan kepalanya, menatap bintang-bintang yang dengan eloknya bersinar. Sesekali mereka berkelap-kelip.

Ingatannya kembali pada masa kecilnya. Dulu, ayahnya, Junho, sering sekali mengajaknya mengamati rasi bintang. Hampir tiap malam pria paruh baya itu akan menceritakan berbagai macam kisah tentang rasi-rasi bintang yang ada. Sesekali menyuruh Sehun untuk mengamati lewat teropong bintang yang ayahnya itu berikan untuk hadiah ulang tahun ketujuhnya.

Sehun sempat berharap, bahwa ayahnya akan kembali seperti dulu. Seorang ayah yang akan menepuk pundaknya dengan bangga ketika ia pulang membawa selembar kertas ulangan dengan nilai tinggi. Seorang ayah yang dulu menyemangatinya ketika ia pertama kali jatuh dari sepedanya dan akan berkata, “Kau pasti bisa, Nak!” Seorang ayah yang dulu selalu berujar, “Ayah menyayangimu, Sehun,” dengan penuh kasih sayang. Seorang ayah yang sudah hilang di mata Sehun. Pemuda itu bahkan tidak begitu mengingat orangtua kandungnya sendiri. Tapi Sehun bisa mengingat dengan jelas memori-memori yang terbentuk bersama ayah angkatnya.

Saat Sehun merasa dunia akhirnya bisa sedikit tenang hari ini, tiba-tiba ia mendengar jeritan seseorang. Seorang perempuan. Naluri prianya keluar dan secara spontan ia berlari mencari sumber suara. Tidak jauh dari apartemennya, kira-kira selang dua bangunan, di dalam gang dengan penerangan minim, Sehun melihat seorang perempuan tengah terpojok dikerumuni tiga orang laki-laki bertubuh besar.

“Jangan mendekat! Jangan macam-macam denganku!”

“Hei, Nona Manis, kami tidak akan menyakitimu. Mungkin hanya akan-em….bermain-main sebentar. Bagaimana menurutmu?”

“Kuperingatkan jangan mendekat!!”

Seorang di antara pria yang menyudutkan gadis itu baru hendak menaruh tangannya di ujung dagu si gadis ketika suara dehaman seseorang memecah suasana. Si gadis yang tadinya sudah memejamkan kedua matanya refleks membuka kembali matanya.

“Apa kalian tidak malu bermain tiga lawan satu? Dengan seorang perempuan pula, cih.” Sehun terkekeh mencibir. Pria-pria itu saling bertatapan satu sama lain untuk sejenak. Lalu mereka perlahan mengalihkan atensinya pada Sehun dan berjalan mendekat. “Wah, wah. Kita kedatangan tamu rupanya.”

“Hei, bocah ingusan! Jangan sok menjadi pahlawan! Kau sebaiknya pergi sebelum kami menendang bokong tampanmu itu ke aspal!” salah seorang dari mereka berseru yang disusul dengan derai tawa ketiganya.

“Tapi aku tidak mau pergi. Bagaimana ini?” terselip nada menantang dalam bicaranya.

“Kau benar-benar cari mati.” Dan setelahnya, mereka bertiga menyerang Sehun. Beruntung mereka tidak membawa senjata tajam. Sehun memegang sabuk hitam karate, jadi para “jagoan” yang melawan Sehun sekarang ini tidak ada apa-apanya bagi Sehun.

Selama beberapa menit gadis tadi hanya mematung di tempatnya. Tidak bergeming sama sekali. Menyaksikan Sehun yang dengan lincahnya menendang salah satu dari mereka. Membuat mereka bertiga terkapar di menit-menit terakhir dan memutuskan untuk pergi.

Sehun baru saja hendak pergi menjauh ketika detik selanjutnya, ia mendengar tubuh ambruk di belakangnya. Pria itu lantas menengok ke arah sumber bunyi. “Sial!” Buru-buru Sehun menghampiri tubuh si gadis.

Ya, ya, Nona! Apa kau mendengarku?” tanya Sehun sambil menepuk-nepuk pipi gadis itu dengan posisi jongkok. “Aish! Benar-benar,” gerutu Sehun. Sehun mau tidak mau harus membawa gadis itu ke apartemennya. Mana mungkin ia meninggalkan seorang gadis yang hampir dilecehkan sendirian pada tengah malam begini? Benar-benar merepotkan.

Untungnya sudah tengah malam, jadi lebih mudah untuk membawa gadis itu tanpa dicurigai siapa pun. Sehun membaringkan tubuh itu di sofa ruang tengah miliknya. Unit apartemen Sehun sebenarnya dilengkapi dua kamar tidur, tapi karena Sehun hanya menempati unit ini sendiri, kamar satunya tidak pernah dibereskan sama sekali.

Diletakkan punggung telapak tangannya di permukaann dahi si gadis dan suhu tubuhnya normal. Gadis itu juga tidak menggigil ataupun menunjukkan gejala pesakitan lainnya. Sepertinya hanya syok, mungkin sebentar lagi bangun.

Yang Sehun tahu, gadis ini bernama Im Nayoung, berasal dari Busan, dan berusia dua puluh tiga tahun. Sehun mengetahuinya dari kartu identitas milik Nayoung. Ia kira bisa menemukan kontak keluarga Nayoung untuk dihubungi, namun nyatanya di dompet gadis itu tidak ada apa pun yang bisa membantu Sehun sekarang. Ia hanya menemukan sejumlah uang yang tidak lebih dari lima ribu won di dalam sana.

Ponsel Nayoung juga rusak dan tidak mau menyala, padahal Sehun sudah mencoba untuk mengecas ponsel milik gadis itu. Jadi yang bisa Sehun lakukan sekarang hanya menunggu gadis itu untuk bangun. Dan Sehun merasa kantuk mulai menderanya. Sebagai hasilnya, ia memutuskan untuk berjalan menuju kamarnya dan tidur.

****

Esok paginya Nayoung terbangun dalam keadaan bingung. Bingung dengan di mana dirinya sekarang dan bingung bagaimana dirinya bisa sampai di sini. Nayoung menurunkan kakinya dan mengubah posisinya menjadi duduk. Gadis itu meraba-raba tubuhnya dan pakaiannya masih lengkap. Ia memindai ruangan sekitarnya dan bersamaan dengan itu, Sehun keluar dari kamarnya.

Pria itu berjalan mendekat. “Kau sudah-”

“Jangan mendekat! Siapa kau?! Bagaimana aku bisa sampai di sini?!” Nayoung tiba-tiba berdiri dari sofa. Dipasangnya posisi was-was saat melihat Sehun berjalan mendekat.

Sehun tiba-tiba ikut menaruh kedua tangan di depan dadanya berusaha menenangkan Nayoung. “Whoa, Nona, tenangkan dirimu. Namaku Oh Sehun dan ceritanya panjang.”

Pikiran Nayoung sudah diisi dengan hal yang tidak-tidak sekarang, seperti mungkin saja pria di hadapannya ini adalah pria mesum yang sengaja menjebaknya. Atau bahkan pria berhidung belang yang berniat menjualnya. Tidak, Nayoung harus kabur dari sini.

Masih dengan posisi yang sama, Nayoung mencari kira-kira pintu mana yang merupakan pintu keluar. Nayoung menebak kalau pintu dengan monitor tamu di dinding sebelahnya itu adalah pintu keluar.

“Oh Sehun-ssi, di belakangmu!” Untuk alasan yang bodoh, Sehun menengok dan sekon selanjutnya ia mendengar debaman pintu apartemennya. Gadis itu kabur. Sehun benar-benar tak habis pikir. Ia tidak mengejarnya karena memang hak Nayoung untuk lari dan dirinya juga terlampau malas untuk mengejarnya. Sementara itu kedua netranya menangkap objek lain di atas nakas sebelah sofanya. Itu dompet milik Nayoung.

TBC

A/N:

MUEHEHE /evil laugh/ aku bawa FF baru. Dan ini pertama kali nulis FF chapter, jadi mohon dimaklumi kalau update-nya rada molor :v. FF ini juga udah dipublish di wattpad pribadiku, silahkan mampir :3 klik di sini. Mohon maaf kalau masih banyak kekurangan di sana-sini /bow/

Best regards,

Vi

Advertisements

20 thoughts on “The Lost and Love [FILE 1]

  1. seruuuuu…..
    akhirnya mereka ketemu juga,, pdhl diawal” aq udh brtanya” kapan nayoung muncul???
    eh ternyata emg dibagian akhir ya,hehehe…
    itu si nayoung masa’ gk inget sih klau sehun yg udh nolongin dia?
    eh tp dompetnya masih ketinggalan ya? brarti ada kemungkinan balik lagi ke apartmen sehun dong?
    asiiik….nayoung bisa ktemu sehun lagi deh 🙂
    aq kasihan sama hidupnya sehun yg mnderita dan penuh tekanan kyk gitu 😥
    moga aja stelah kehadiran nayoung, hidup sehun jd lebih berwarna 🙂
    ditunggu nextnya kak 🙂
    semangat ^__^

    Liked by 1 person

    • Kan nayoung main gelap2an d gang sempit brg akang2 berbadan keker, jd muka sehun remang2 jg :v mungkin nayoung modus sengaja ninggalin dompet biar ketemu cogan lg wkwkwk. Makasih jejakny yaa ^^ ditungguu

      Like

  2. Aku minta maaf buat author ff ini karena aku baru komen disini , jujur dr pertm kali bca chapter 1 ini aku pkir ffnya biasa aja terus ngebosenin . Tapi setelah aku liat readersnya bnyk jadi aku coba bca chapter selanjutnya sampai akhirnya lupa komentar 😁. aku termasuk sehun lovers jg mkanya aku pasti bc ff yg castnya sehun…. maaf ya.. ff ini bagus menurut aku krn alurnya pas aku suka bc ff yg alurnya ngga terlalu cepat trus feelnya yg pasti hrus dpt.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s