Don’t Go

By : avatar

Cast : Oh Sehun (EXO), Im Nayoung (OC)

Genre : Romance, Angst, Hurt, Sad

Length : Oneshot

Rating : PG-17

Disclaimer : I own the plot and the stories. This story is purely mine, I created it myself from my own wild imagination. Cast besides OC(s) belongs to God and their relatives. I might had posted this story on another blog. Last but not least, please don’t be plagiators and siders! Thank you for your concern.

Based on a TRUE STORY

Please read the Author’s Note.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seseorang berlari tak tentu arah menepis semua bau obat-obatan rumah sakit yang dibencinya. Ia tak peduli lagi dengan tatapan orang yang melihatnya aneh. Ada seseorang yang sangat membutuhkannya detik ini juga atau dirinya yang membutuhkan orang ini, membutuhkannya untuk tetap hidup.

Ia berdiri mematung di depan pintu ruang ICU tempat gadis itu dirawat. Tangannya membeku tidak mampu untuk menggeser hanya untuk sekedar melihat keadaan orang tercintanya. Takut. Takut hatinya hancur melihat keadaan seseorang yang telah mencuri hatinya selama bertahun-tahun.

Dengan sisa-sisa nyalinya, dia memberanikan diri untuk menggeser pintu ruangan itu. Bau segala macam suntikan, obat-obatan, dan peralatan medis langsung menyambut hangat indra penciumannya. Tak tahan memang, tapi dia membutuhkan gadis itu supaya tetap hidup.

Hatinya bagai diremuk sejuta keping. Kekasihnya kini dalam keadaan lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Kabel-kabel mencuat keluar dari dalam pakaian rumah sakitnya. Wajahnya pucat, tapi tidak menghilangkan kecantikan sang pemilik tubuh. Bibir cherry yang biasa menghangatkan bibirnya kini telah sedikit membiru, tapi dirinya yakin bibir kekasihnya masih semanis seperti yang diingatnya. Surai hitamnya terurai, terkulai lemas di bantal tempatnya menopang kepala. Tubuhnya kurus, memperlihatkan jejak-jejak tulang yang lumayan jelas pada kulitnya. Tapi tetap saja. Cantik. Setidaknya itulah yang dipikirkan pria ini.

Perlahan pria berkulit pucat itu memberanikan diri untuk mengambil langkah.

 

Satu langkah

 

Dua langkah

 

Tiga langkah

 

“Bagaimana kau bisa tetap cantik walau sakit, Nayoung-ah?” Pria itu kini duduk di sebelah ranjang rumah sakit kekasihnya yang bernama lengkap Im Nayoung itu. Sebelah tangannya menggenggam erat tangan ringkih milik Nayoung dan yang sebelahnya asik beradu dengan surai hitam indah milik gadis itu.

“Cepatlah sembuh Young-ah. Setelah kau sembuh kita bisa pergi ke tempat-tempat favoritmu lagi.” Pria berkulit pucat itu masih setia menggenggam tangan gadis itu sambil mencium lamat punggung tangannya.

“Sehun-ah…” Lirih seorang wanita paruh baya yang berjalan mendekat. Pria itu, Oh Sehun, menoleh mendapati ibu dari gadis ini dan langsung berdiri untuk menyapa.

“Sehun, kita harus sabar menghadapi cobaan ini.” Nyonya Im memeluk Sehun. Air mata pun tak terbendung lagi, pipi putih pucat Sehun basah. Perlahan tapi pasti, kristal-kristal bening itu menuruni pipi mulus seorang Oh Sehun. Nyonyam Im sudah lelah menangis, ia harus kuat demi putrinya. Ibu Nayoung hanya mengelus-elus punggung Sehun dan melepaskan pelukannya ketika isakan kecil lolos dari mulut pria itu.

“Oh Sehun jangan menangis, Nayoung akan ikut sedih jika melihatmu menangis. Kau sudah kuanggap sebagai anakku sendiri Sehun-ah, tangismu juga tangisku, nak. Ibu sudah lelah menangis, jangan biarkan ibu menangis lagi, hm?” Nyonya Im mengusap permukaan pipi Sehun yang basah karena ulah air mata.

 

*Empat bulan yang lalu*

 

Sepasang kekasih itu sedang menyusuri jalan di pinggir Sungai Han. Mereka berhenti untuk istirahat di bangku favorit mereka.

“Kita tunggu matahari terbenam ya? Ya ya ya ya??” Nayoung sudah menampilkan tatapan memelas, memohon kepada Sehun dengan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.

“Iya, iya baiklah.” Sehun gemas melihat tingkah kekasihnya. Nayoung memekik kegirangan.

Nayoung menyenderkan kepalanya di pundak Sehun, entah kenapa tiba-tiba dirinya merasa lelah. Sehun hanya diam, membiarkan gadis itu menopangkan kepalanya di pundak miliknya.

“Young-ah, kau benar mataharinya indah sekali.” Sehun berucap. Tapi Nayoung hanya tetap diam. Sehun sebenarnya sudah mempersiapkan kotak merah kecil berisi cincin yang akan diajukan me Nayoung sore itu. Rencananya sih begitu. Pria itu mengira gadis itu tertidur di pundaknya. Sehun hanya tersenyum melihat wajah Nayoung yang tertidur di pundaknya.

“Young-ah…Bangun. Sudah mulai malam, ayo pulang. Udaranya mulai dingin. Young-ah…” Kepala Nayoung terjatuh di pangkuan Sehun. Sehun yang panik, membalik kepala Nayoung supaya menghadapnya. Darah mengalir dari kedua hidung Nayoung.

“Im Nayoung!! Kau kenapa?! Ya!” demi lantai lapis emas rumah Suho, Sehun panik setengah mati. Digendongnya tubuh Nayoung dan langsung membawanya ke mobil.

“Young-ah, bertahanlah!” Sehun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Masa bodo dengan mobil-mobil yang hampir ditabraknya tadi.

Akhirnya, mereka sampai di Seoul Center Hospital. Sehun membawa tubuh Nayoung turun dari mobil, menggendongnya ala bridal style. Segera setelah memasuki loby utama, Sehun tidak tahan untuk menahan mulutnya agar tidak berteriak meminta pertolongan.

Para suster langsung sigap membawa ranjang dorong rumah sakit. Tubuh Nayoung sudah lemah terkulai, wajahnya pucat. Ditaruhnya Nayoung di atas ranjang dorong itu.

“Young-ah kau harus bertahan. Kenapa tiba-tiba kau seperti ini?” Sehun setia menemani Nayoung sampai ranjangnya menghilang di balik pintu putih itu.

Sehun bak orang gila berjalan ke sana kemari, menunggu hasil pemeriksaan Nayoung. Seseorang berjas putih yang ia yakini dokter tiba-tiba keluar dari ruangan Nayoung. Nametag bertuliskan Do Kyungsoo tersemat rapi di dada bagian kiri jasnya.

“Seongsaengnim, bagaimana?” Mulut Sehun sudah gatal untuk tidak bertanya.

“Sebaiknya anda ikut saya.” Kata dokter itu sambil memimpin jalan menuju ruangannya.

Singkat cerita, Nayoung dinyatakan menderita leukimia stadium 2. Sehun rasanya ingin mati saja mendengar hal itu. Lebih baik dirinya yang menderita daripada Nayoung, gadis yang sangat dicintainya.

 

****

 

Sudah empat bulan sejak Nayoung divonis menderita leukimia. Sehun masih setia mendampingi Nayoung. Setiap hari sepulang kuliah, tidak peduli sesibuk apa pun, Sehun pasti menyempatkan diri untuk menemani Nayoung selama beberapa jam.

Sebulan yang lalu Nayoung memasuki tahap terparah dalam sakitnya. Nayoung tidak bisa berjalan, hanya terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

Hari itu akhirnya datang, hari di mana dunia Sehun bagai dijungkir balikan . Ketika Sehun sedang dalam jam kosongnya, Ibu Nayoung meneleponnya dan memberitahu bahwa keadaan Nayoung sedang kritis. Dan berakhir dengan Sehun yang berlari seperti orang gila di koridor rumah sakit.

“S-sehun…” Nayoung tersadar dari tidur panjangnya. Sehun yang terkejut sekaligus bahagia langsung menghampiri gadisnya itu.

“Aku di sini Young-ah, aku akan selalu di sini.” Sehun tidak bisa menyembunyikan air matanya yang sudah menumpuk di pelupuk matanya.

“Uljima, jangan buat aku sedih. Aku akan baik-baik saja.” Senyum getir menghiasi wajah sehun.

“Nanti kalau aku pulang bagaimana?” Nayoung bertanya, yang lebih bisa dikatakan sebagai lirihan. Tubuh Nayoung terasa sakit semua, tapi ia tidak pernah mengeluh sedikit pun. Ia malah terkadang meminta maaf kepada para perawat yang merawatnya karena sudah merepotkan.

“Bagus kalau begitu, kita bisa jalan bersama lagi. Maka dari itu cepatlah sembuh Im Nayoung.” Sehun memberi semangat kepada gadis itu. Ia mungkin tidak sakit seperti Nayoung, tapi ia bisa merasakan penderitaan yang dirasakan Nayoung. Empat tahun menjalin hubungan dengan gadis itu membuatnya kenal betul dengan tingkah Nayoung. Bahkan hanya dengan menatap matanya Sehun tahu apa yang Nayoung inginkan.

“Maksudku jika aku pulang ke tempat lain, bukan ke rumah.” Dahi Sehun berkerut mendengar ucapan Nayoung barusan. Apa maksudnya? Oh, Sehun tahu betul apa maksud Nayoung.

“Maksudku jika aku pulang bersama Tuhan.” Lirihan Nayoung membuat hati Sehun mencelos. Ia sudah mengantisipasi pertanyaan semacam ini, tapi tidak mengira akan keluar dari mulut gadis itu secepat ini.

“Young-ah, jangan seperti itu. Nanti siapa yang akan menemaniku membuat tugas-tugas di rumah, hm?” Perasaan Sehun mulai tidak enak.

“Tapi Hun, jika aku pulang bersama Tuhan, aku pasti bisa berjalan lagi. Apa kau tidak ingin aku berjalan lagi?” Posisi Nayoung saat ini sudah berada dalam dekapan Sehun. Sehun naik merebahkan dirinya di sebelah Nayoung, memeluk tubuh gadis itu erat. Mungkin ini yang terakhir kalinya. Sehun hanya diam membiarkan ucapan demi ucapan keluar dari bibir manis gadis itu.

“Hun, bisakah kau bernyanyi untukku?” Sehun kaget mendapat permintaan dari kekasihnya itu. Kalian tahulah bagaimana suaranya saat menyanyi. Tapi mengingat keadaan Nayoung sekarang, ia melepaskan segala malu dalam dirinya.

The small fluttering of your wings seemed like it was telling me to follow you
The sad eyes and tacit stories in your heart that night in which the whirlwind was raging

I was mesmerized by the mysterious you and stared at you and had my one soul stolen
Because I am completely drunk at your movements, I even forgot how to breathe
Like a waltz, I sit lightly and can’t take my eyes off of you
My eyes naturally follow you every time you walk

Guide me yeah take me together with you to the place where you live
Oh even if the world ends, I’ll follow from behind you so please don’t go out of my sight
Even when the morning comes, don’t disappear oh
This walk that I’m dreaming
You’re my only beautiful butterfly


Sehun berhenti bernyanyi mendengar bunyi monitor jantung Nayoung yang kian melemah. Ia langsung mendekap erat Nayoung, membisikkan kata-kata terakhir untuknya.

“Young-ah jika kau mau pergi, pergilah. Kau akan selaku ada di hatiku, tidak ada yang bisa menggantikan posisimu. Aku rela jika kau harus pergi, aku akan berusaha untuk ikhlas dan hidup bahagia, Young-ah. Lepaskan jika memang kau sudah tidak kuat. Kami semua di sini akan selalu mencintaimu. Aku berjanji Im Nayoung, aku janji.”

 

Tuuuuuuut

 

Nada itu. Memekakkan telinga. Sehun tahu betul bunyi apa itu. Suara monitor jantung Nayoung yang sudah berubah dari putus-putus menjadi nada panjang satu melodi yang mengalun bagai musik yang menyayat hati. Sehun tidak melepaskan dekapannya. Ia tidak mau melihat monitor karena ia merasa bahwa inilah kesempatan terakhirnya untuk merasakan kehangatan tubuh Nayoung yang masih tersisa.

Ibu Nayoung menangis, tapi ia sudah merelakan kepergian putri semata wayangnya itu. Ia menghampiri Sehun yang sedang mendekap erat anaknya. Sehun menangis dalam diam.

 

 

****

 

Kepergian Nayoung membuat banyak orang terpukul. Kepribadian Nayoung yang ceria dan tak pernah mengeluh meninggalkan bekas yang mendalam, membuat semua orang yang ditinggalkan merasakan duka teramat sangat.

 

 

Tapi satu yang Sehun percaya. Nayoung sudah bahagia di sana. Gadisnya itu sudah bahagia di surga. Gadis itu sudah tidak menderita lagi. Gadis itu mungkin sudah bisa berjalan lagi di alam abadi di sana. Sehun tersenyum sedih mengingat semua kenangan indah yang telah mereka lalui bersama, tapi dirinya akan lebih sedih lagi jika melihat gadis itu menderita terus. Tentu harapan untuk sembuh bagi Nayoung pernah bersarang dalam benaknya. Namun Tuhan memilkki rencana lain, yang ia percaya merupakan rencana terindah bagi gadis itu. Bibir Sehun hanya bisa meminta gadisnya itu tetap tinggal, memintanya untuk jangan pergi, tapi apa daya jika Yang Kuasa berkehendak lain?

 

 

A/N:

Cerita ini aku dedikasikan buat temenku yang udah bahagia di sana. Maaf sebelumnya kalo ga ngefeel, tapi ini kejadian emang gini adanya. Mohon doanya ya buat temenku :). Terima kasih.

Best regards,

avatar

Advertisements

8 thoughts on “Don’t Go

  1. astaga ini cerita seperti membuka kembali memori lama dimana sahabat aku juga harus pergi karna sakitnya
    dia dulu ceria dan kadang usil tapi sakit yang sekian lama dia derita akhir ya sampai pada batasnya
    jadi sedih kan kan mewek aku

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s